Balada PSBB: Kami Bukannya Tidak Takut Covid-19

Banyak yang masih resah dengan kelangsungan hidupnya di tengah membanjirnya program bantuan pemerintah selama pandemi Covid-19.

oleh Marco TampubolonDiterbitkan 20 April 2020, 19:30 WIB
Alwadi, pedagang masker keliling di Pamulang, Tangerang Selatan, mengisi waktu dengan memancing di hari pertama penerapan PSBB di Kota Tangsel, Banten, Sabtu (18/4/2020) (Marco Tampubolon/Liputan6.com)

Liputan6.com, Tangerang Selatan - Mereka takut terhadap virus Corona Covid-19. Tapi di saat yang bersamaan, mereka juga resah dengan dapur di rumah yang terancam tidak berasap lagi.

Alwadi, masih melempar kail di Situ Pamulang saat hari pertama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di Kota Tangerang Selatan, Sabtu (18/4/2020). Separuh wajahnya tertutup masker yang terbuat dari kain.

Sembari mengamati benang kailnya, dia berulang kali membasuh tangan dengan air dari botol air mineral bekas yang dibawanya. Tutup botol sengaja dilubangi agar air yang dituang tidak terlalu deras.

"Sengaja saya bawa ini, agar bisa cuci tangan. Anjuran pemerintah kan harus cuci tangan, cuci tangan, tapi enggak tahu pernah dikasih makannya," ujar Alwadi kepada Liputan6.com setengah berseloroh.

Awaldi tidak sendiri. Di tepi danau buatan yang berada di jalan Siliwangi, Pamulang itu, terdapat pemancing-pemancing lain.

Bagi Alwadi, memancing hanyalah hobi. Sebenarnya dia keluar rumah bukan itu kegiatan itu, melainkan untuk mencari nafkah. Dia terpaksa 'turun ke jalan' karena kios jahit miliknya belakangan tidak laku.

Menurut pria paruh baya itu, sejak pandemi virus Covid-19 semakin gempar di Indonesia, pelanggannya terus merosot.

"Sekarang tidak ada yang mau jahit pakaian lagi. Order sepi sejak Covid-19 ramai. Kalau bertahan mau makan apa? Benang? Penjahit sekarang beralih bikin masker kain, termasuk saya juga," katanya.

Selain memproduksi, Alwadi juga memasarkan langsung dagangannya dengan berkeliling naik sepeda motor.

Tangsel satu dari dua wilayah di provinsi Banten yang menempuh langkah ini guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Alwadi sebenarnya takut terjangkit Covid-19. Terlebih di tempat tinggalnya di daerah Rawa Buntu, sudah terdapat pasien yang dinyatakan positif Covid-19. Karena itu, dia juga menyambut baik langkah pemkot Tangsel menerapkan PSBB.

"Namun saya tidak punya pilihan juga. Mau bertahan di rumah, saya tidak punya pemasukan. Saya tanya RT di sini untuk bantuan, katanya tidak ada. Saya telepon RT di Bintaro, karena KTP saya masih Bintaro juga katanya saya tidak masuk dalam daftar," kata Alwadi.

Lanjut Baca:

Tidak jauh dari lokasi Alwadi memancing, Subhan, sembari mengenakan masker di mulut tengah duduk di balik meja di dalam toko aluminium dan kaca miliknya. Toko itu juga masih buka seperti biasa. "Saya belum dapat inistruksi langsung dari pemerintah untuk tutup," ujarnya dalam perbincangan dengan Liputan6.com. Subhan, ayah lima anak baru setahun belakangan merintis toko aluminium dan kaca setelah merasa lelah bekerja di agensi periklanan. Dalam menjalankan usahanya, Subhan memiliki dua orang karyawan. Namun sejak pandemi virus Corona Covid-19 merebak di Indonesia, jumlah pemasukannya terus menurun dan saat ini bahkan sudah mencapai 70 persen. "Padahal kalau mendekati lebaran seperti ini, banyak orang yang mesan etalase kaca. Sekarang susah sekali dapat," ujar warga Rawa Kalong, Tangsel itu menambahkan. Seperti halnya Alwadi, Subhan juga sadar kalau Tangsel sudah menerapkan aturan PSBB dan dia juga takut terjangkit Covid-19. Hanya saja, Subhan mengaku tidak punya banyak pilihan sebab dapur rumah tangganya harus mengepul dan dia juga masih membiayai dua karyawannya. "Saya kasihan dengan dua karyawan saya. Kalau tidak ada order bagaimana mereka gajian. Meski sepi, kami masih berharap masih ada satu atau dua pelanggan yang datang agar ada pemasukan," katanya. Agar tidak tertular, Subhan selalu memakai masker meski saat berada di dalam tokonya. Selain itu, dia juga memilih lebih banyak di rumah dan mempercayakan toko kepada pegawainya. "Sebenarnya saya itu lebih banyak di rumah. Saya ke sini karena harus bayar gaji karyawan. Selebihnya saya lebih banyak di rumah," katanya. "Saya juga takut tertular, makanya saya selalu pakai masker," ujarnya. Bagi Subhan, Covid-19 juga menyeramkan. Namun sebagai pengusaha kecil dia menghadapi dilema dalam menerapkan aturan PSBB. Dan untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah, Subhan sudah lebih dulu putus asa. "Dalam situasi normal saja kita susah saat berurusan dengan birokrasi, apalagi dalam situasi seperti ini. Saya itu, kalau mau lockdown sekalian juga sebenarnya tidak ada masalah asal semuanya jelas dan tidak diterapkan setengah-setengah," katanya.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya