Liputan6.com, Tangerang Selatan - Mereka takut terhadap virus Corona Covid-19. Tapi di saat yang bersamaan, mereka juga resah dengan dapur di rumah yang terancam tidak berasap lagi.
Alwadi, masih melempar kail di Situ Pamulang saat hari pertama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di Kota Tangerang Selatan, Sabtu (18/4/2020). Separuh wajahnya tertutup masker yang terbuat dari kain.
Advertisement
Sembari mengamati benang kailnya, dia berulang kali membasuh tangan dengan air dari botol air mineral bekas yang dibawanya. Tutup botol sengaja dilubangi agar air yang dituang tidak terlalu deras.
"Sengaja saya bawa ini, agar bisa cuci tangan. Anjuran pemerintah kan harus cuci tangan, cuci tangan, tapi enggak tahu pernah dikasih makannya," ujar Alwadi kepada Liputan6.com setengah berseloroh.
Awaldi tidak sendiri. Di tepi danau buatan yang berada di jalan Siliwangi, Pamulang itu, terdapat pemancing-pemancing lain.
Bagi Alwadi, memancing hanyalah hobi. Sebenarnya dia keluar rumah bukan itu kegiatan itu, melainkan untuk mencari nafkah. Dia terpaksa 'turun ke jalan' karena kios jahit miliknya belakangan tidak laku.
Menurut pria paruh baya itu, sejak pandemi virus Covid-19 semakin gempar di Indonesia, pelanggannya terus merosot.
"Sekarang tidak ada yang mau jahit pakaian lagi. Order sepi sejak Covid-19 ramai. Kalau bertahan mau makan apa? Benang? Penjahit sekarang beralih bikin masker kain, termasuk saya juga," katanya.
Selain memproduksi, Alwadi juga memasarkan langsung dagangannya dengan berkeliling naik sepeda motor.
Tangsel satu dari dua wilayah di provinsi Banten yang menempuh langkah ini guna memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.
Alwadi sebenarnya takut terjangkit Covid-19. Terlebih di tempat tinggalnya di daerah Rawa Buntu, sudah terdapat pasien yang dinyatakan positif Covid-19. Karena itu, dia juga menyambut baik langkah pemkot Tangsel menerapkan PSBB.
"Namun saya tidak punya pilihan juga. Mau bertahan di rumah, saya tidak punya pemasukan. Saya tanya RT di sini untuk bantuan, katanya tidak ada. Saya telepon RT di Bintaro, karena KTP saya masih Bintaro juga katanya saya tidak masuk dalam daftar," kata Alwadi.