Kiprah Praveen / Debby Juarai All England 2016 Tanpa Didampingi Pelatih

Menengok kembali kiprah Praveen Jordan / Debby Susanto pada All England 2016, banyak kisah menarik yang terselip.

oleh Yus Mei SawitriDiterbitkan 20 April 2020, 08:50 WIB
Tampil santai dan tenang menjadi kunci keberhasilan Praveen Jordan / Debby Susanto menjadi juara All England 2016. (Twitter)

Birmingham - Praveen Jordan punya catatan manis di All England. Pemain spesialis ganda campuran itu mengoleksi dua gelar juara turnamen bulu tangkis tertua di dunia itu dengan dua pasangan berbeda. 

Praveen Jordan kali pertama mencicipi titel pada All England 2016. Dia berhasil naik podium utama bersama Debby Susanto. 

Empat tahun berselang keberhasilan serupa diraup pemain kelahiran 26 April 1993 tersebut. Kali ini, Praveen menguasai takhta All England bersama pasangan barunya, Melati Daeva Oktavianti. 

Menengok kembali sepak terjang Praveen Jordan / Debby Susanto pada All England 2016, banyak kisah menarik yang terselip. Satu di antaranya keberhasilan mereka menyingkirkan juara bertahan sekaligus unggulan pertama asal Tiongkok dalam perjalanan meraih gelar. 

Pada babak pertama dan kedua, Praveen / Debby menghadapi lawan yang di atas kertas masih di bawah mereka. Praveen / Debby mampu menyingkirkan ganda Singapura, Danny Bawa Chrisnanta/Yu Yan Vanessa Neo, dalam dua gim langsung 21-14, 21-17 pada babak pertama.

Ujian cukup alot dihadapi ganda Indonesia itu pada babak kedua. Meladeni ganda Jepang, Kenta Kazuko/Ayane Kurihara, Praveen /  Debby dipaksa bermain tiga gim 13-21, 21-14, 21-18. Adapun pada perempat final, Praveen / Debby menyingkirkan ganda campuran Tiongkok, Liu Cheng / Bao Yixin, 21-14, 23-21. 

Rintangan terberat mengadang Praveen/Debby pada semifinal. Ganda campuran terbaik dunia saat itu, Zhang Nan / Zhao Yunlei, saat itu sudah menunggu. Pasangan China itu sangat difavoritkan menjuarai All England 2016 karena sedang dalam performa terbaik dan berstatus juara bertahan. 

Namun, Praveen/Debby berhasil menjungkirbalikkan prediksi. Mereka bisa meredam Zang/Zhao bahkan dalam dua gim langsung. Tiket final masuk genggaman setelah Praveen/Debby mengalahkan Zhang/Zhao 21-19, 21-16. 

Praaven / Debby dipastikan berjumpa pasangan Denmark yang menempati unggulan kelima, Joachim Fischer Nielsen / Christina Pedersen, di partai puncak All England 2016.


Tanpa Pelatih

Ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Debby Susanto meraih gelar juara All England 2016. (Liputan6.com/Humas PP PBSI)

Praveen / Debby tampil percaya diri pada partai puncak. Mereka sukses merebut gelar di nomor ganda campuran All England 2016 pada laga di Arena,Birmingham, Inggris, Minggu 13 Maret, dengan mengalahkan Joachim Fischer Nielsen / Christinna Pedersen 21-12, 21-17. 

Lanjut Baca:

Menariknya  keberhasilan tersebut diraih Praveen/Debby itu diraih tanpa didampingi pelatih mereka, Richard Mainaky. Sang pelatih terpaksa pulang ke Jakarta sebelum babak semifinal digelar, pada 11 Maret 2016. "Anak saya sakit dan dirawat di rumah sakit. Pikiran saya tak tenang. Kondisi fisik saya juga hampir sakit selama berada di Inggris. Mungkin kondisi saya drop karena harus membagi fokus antara mendampingi atlet dan memikirkan anak yang sakit di Jakarta. Setelah berdiskusi dengan Praveen dan Debby, akhirnya saya terpaksa memutuskan untuk pulang lebih dulu ke Jakarta,” kata Richard saat itu.  Sejak semifinal, Praveen / Debby didampingi Herry Iman Pierngadi yang aslinya merupakan pelatih nomor ganda putra. Sebetulnya ada beberapa pelatih yang bisa saja mendampingi Praveen / Debby. Namun bukan tanpa alasan jika akhirnya Herry yang ada di tepi lapangan. “Saya sering berdiskusi dengan Koh Herry. Kalau mendampingi atlet ke turnamen di luar negeri, kami sering sekamar dan berdiskusi. Ada sejumlah kesamaan dalam hal melatih antara saya dan Koh Herry. Alasan itu yang membuat saya yakin saat menitipkan Praveen / Debby ke dia,” ujar Richard lagi.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya