Liputan6.com, Jakarta Dmpak penyebaran corona Covid-19 dialami berbagai sektor, termasuk di dunia bisnis. Pandemi telah mengubah pola perekonomian.
Masa krisis corona membuat pelaku usaha dituntut jeli dan memutar otak untuk setidaknya mampu bertahan. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menyampaikan langkah-langkah untuk menghadapi masalah ini.
Advertisement
"Menyelamatkan SDM buat SDM sehat dengan memberi vitamin. Apa artinya perusahaan tanpa SDM. Menghemat pengeluaran listrik, transport, meeting, entertainment, sampai belanja barang," kata Rhenald Kasali saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 15 April 2020.
Sang praktisi bisnis juga menambahkan, saat ini tidak banyak yang dapat dilakukan para pelaku usaha besar untuk meningkatkan penghasilan. Pada pandemi ini mereka seperti masuk dalam fase hibernasi.
"Sekarang yang penting survive karena semua ada efeknya. Bertahan dengan memikirkan bisnis baru yang kemarin tak terpikirkan," tambahnya.
"Ada bisnis yang bisa dipertahankan karena setelah Covid-19 masyarakat berubah, apa yang dibutuhkan, di mana bisa fit in, budaya apa yang bisa dilakukan, cata kerja yang efisien di rumah," kata Rhenald.
Strategi
Saat ini penting pula memikirkan strategi apa yang harus dilancarkan setelah corona Covid-19 berakhir. Bukan tanpa alasan, mengingat ada begitu banyak perubahan yang terjadi nanti usai pandemi.
"Covid-19 berakhir pemain sudah berbeda, muncul pemain baru, yang baru adalah yang mempersiapkan diri dengan macam-macam langkah, perilaku konsumen berubah, restriksi bangsa-bangsa berubah," jelasnya.
Sementara dari bagi perseorangan, kata Rhenald, yang bertahan adalah mereka yang berinventasi dan akan menikmati pada masanya. "Kemerdekaan finansial menghadapi krisis, punya surplus saat krisis," ungkapnya.
Rhenald menyampaikan, investasi bukan hanya pada uang dan benda, tetapi yang paling penting adalah kesehatan. Seperti yang diketahui, mereka yang mudah 'diserang' saat pandemi adalah yang memiliki penyakit bawaan.
"Kesadaran pada kesehatan akan tinggi. Investasi ada pada persaudaraan dalam perbedaan, keberagaman dalam pertemanan, jangan sensitif," tutupnya.
Kata Pelaku Usaha
Jatuh bangun bertahan di masa paceklik pandemi turut dirasakan oleh pelaku usaha kuliner. Satu di antaranya adalah Masbukhin Pradhana, pemilik Bakso Sapi'i dan Soto Lamongan Cak Bukin.