Tinta Emas Keluarga Arbi di Bulutangkis Dunia

Indonesia punya beberapa keluarga yang memiliki lebih dari satu pebulutangkis hebat. Salah satunya adalah keluarga Arbi, dari Kota Kudus.

oleh Yus Mei SawitriDiterbitkan 05 April 2020, 21:10 WIB
Hariyanto Arbi menganggap Hendrawan sebagai rival terberatnya ketika masih berada di PB Djarum Kudus. (bola.com/Reza Bachtiar)

Jakarta- Indonesia merupakan salah satu negara hebat di kancah bulutangkis dunia. Indonesia tak henti melahirkan talenta-talenta berbakat. Regenerasi pebulutangkis jempolan nyaris tidak pernah putus, terutama di sektor putra.

Uniknya, Indonesia memiliki beberapa keluarga yang memiliki lebih dari satu pebulutangkis hebat. Satu di antaranya keluarga Arbi, dari Kota Kudus.

Pasangan Ang Tjin Bik (Arbi) dan Goei Giok Nio (Sri Hastuti) memiliki tiga putra yang menekuni bulutangkis hingga menggoreskan prestasi di level dunia. Ketiga anggota keluarga Arbi tersebut layak dilabeli sebagai legenda bulutangkis Indonesia. Mereka adalah Hastomo Arbi, Eddy Hartono, dan Hariyanto Arbi.

Dari ketiganya, Hariyanto Arbi yang prestasinya paling mengilap. Namun, sumbangsih Hastomo dan Eddy Hartono untuk bulutangkis Indonesia juga tak kalah mentereng.

Hariyanto Arbi memang bergelimang prestasi. Pebulutangkis yang berjuluk "Smes 100 Watt" tersebut menjadi bagian tim Indonesia saat merengkuh Piala Thomas 1996, 1998, dan 2000. Di level indivudu, Hariyanto Arbi yang turun di nomor tunggal putra mengantongi dua titel All England, serta jadi juara dunia 1995.

Nama Hariyanto Arbi tidak pernah bisa lepas dari kejuaraan All England. Dia kali pertama mencicipi gelar juara turnamen bulutangkis tertua di dunia itu pada 1993. Momen istimewa itu bertambah spesial karena lawannya di partai puncak adalah sesama pemain Indonesia, Joko Supriyanto.

Gelar All England untuk kali kedua datang setahun berselang. Lagi-lagi Hariyanto Arbi melakoni All Indonesian Final, kali ini menghadapi Ardy Bernadus Wiranata. Pemain yang akrab disapa Hari itu sebenarnya punya kans membukukan hattrick juara All England setelah kembali masuk final pada 1994. Namun, impiannya dijegal oleh Ardy Bernadus Wiranata. Ardy berhasil membalas kekalahan pada edisi final setahun sebelumnya.

Lanjut Baca:

Prestasi gemilang Hariyanto lainnya tentu saja gelar juara dunia pada 1995, yang saat itu digelar di Lausanne, Swiss. Medali emas masuk genggaman Hari setelah di partai puncak mengalahkan pemain Korea Selatan, Park Sung-woo. Menyebut Hariyanto Arbi, publik bulutangkis Indonesia biasanya akan mengaitkan dengan Liem Swie King. Smesh 100 Watt yang menjadi ciri khas Hari disebut-sebut mirip dengan "King Smash" milik Liem Swie King. Tak sedikit yang menyebut Hari sebagai reinkarnasi King. Seperti dilansir PB Djarum, tehnik lompatan yang Hariyanto Arbi sebenarnya sedikit berbeda dengan Lim Swie King. Menurut Saiful Arisanto dalam buku Biografi Hariyanto Arbi, Lim Swie King akan mundur selangkah baru kemudian melakukan lompatan untuk smes. Sementara itu, Hariyanto Arbi tidak melangkah mundur, tetapi langsung melompat untuk melakukan smes. Dengan tehnik smes seperti itu Hariyanto Arbi mengalahkan lawan-lawannya. Tentu saja, smes keduanya sama-sama hebat, serta memiliki keunikan masing-masing. Kini, setelah pensiun dari dunia bulutangkis, Hariyanto Arbi terjun menjadi pebisnis. Dia juga masih kerap terlibat dalam pencarian bakat pebulutangkis-pebulutangkis cilik yang dilakukan PB Djarum.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya