Petunjuk Baru Infeksi Corona Covid-19, Kehilangan Indra Penciuman dan Rasa

Sekelompok dokter menemukan sejumlah pasien yang terinfeksi Corona Covid-19 kehilangan indra penciuman dan rasa.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 25 Maret 2020, 14:25 WIB
Ilustraasi foto Liputan 6

Liputan6.com, Jakarta - Pasien positif Corona Covid-19 sepertinya punya gejala lain selain demam, batuk kering, dan sesak napas. Sekelompok dokter menemukan sejumlah pasien yang terinfeksi virus ini kehilangan indra penciuman dan rasa.

Mengutip laman NYTimes, beberapa orang ini dilaporkan setelah seorang ibu terinfeksi Corona Covid-19 mengaku tidak bisa mencium aroma popok bayinya yang sudah penuh. Para koki yang terjangkit juga mengatakan tidak bisa membedakan aroma kari atau bawang. Mereka bahkan tidak bisa merasakan rasa masakan.

Menurut dokter, kondisi ini disebut juga anosmia, yakni hilangnya indra penciuman dan ageusia, hilangnya indra perasa, muncul sebagai tanda khas Corona Covid-19, serta kemungkinan penanda infeksi.

Jumat lalu, dokter telinga, hidung dan tenggorokan di Inggris, mengutip laporan dari rekan-rekan di seluruh dunia. Ia meminta orang dewasa yang kehilangan indra penciuman untuk mengisolasi diri selama tujuh hari, bahkan jika mereka tidak memiliki gejala lain, untuk memperlambat penyebaran penyakit. Data yang dipublikasikan terbatas, tetapi dokter cukup khawatir untuk meningkatkan peringatan.

"Kami benar-benar ingin meningkatkan kesadaran bahwa ini adalah tanda infeksi dan bahwa siapa pun yang kehilangan indra penciuman harus mengasingkan diri," kata Prof. Claire Hopkins, Presiden British Rhinological Society.

Menurut Hopkins, kondisi ini bisa menjadi penanda untuk memperlambat transmisi dan menyelamatkan nyawa sebagian orang lain.

Dia dan Nirmal Kumar, presiden THT di Inggris, perwakilan dokter THT di Inggris, mengeluarkan pernyataan mendesak tenaga medis untuk menggunakan APD ketika merawat pasien yang kehilangan indra penciuman dan menyarankan agar tidak melakukan prosedur endoskopi sinus yang tidak penting kepada siapa pun, karena virus bereplikasi di hidung dan tenggorokan dan pemeriksaan ini dapat memicu batuk atau bersin yang berisiko tinggi bagi dokter untuk terkena virus.

"Dua orang spesialis THT di Inggris yang terinfeksi Covid-19 berada dalam kondisi kritis," kata Dr.Hopkins.

Laporan sebelumnya dari Wuhan, China, tempat virus Corona (penyebab Covid-19) pertama kali muncul, telah memperingatkan kalau dokter spesialis THT serta dokter spesialis mata terinfeksi dan sekarat dalam jumlah besar, katanya.

Lanjut Baca:

Mengutip dari laporan negara lainnya yang menunjukkan sejumlah besar pasien Covid-19 mengalami anosmia, salah satunya di Korea Selatan yang melakukan tes pada sejumlah besar warganya, sebanyak 30% dari 2000 pasien yang dites positif mengalami anosmia sebagai gejala utama yang mereka hadapi (ini merupakan kasus ringan). American Academy of Otolaryngology, Minggu kemarin (22 Maret), mengunggah informasi yang menunjukkan kalau indra penciuman yang hilang atau berkurang adalah gejala signifikan yang terkait dengan Covid-19, dan mereka telah terlihat pada pasien yang akhirnya dites positif, tanpa gejala lainnya. Tanpa muncul gejala seperti alergi atau sinusistis, dokter harus mempertimbangkan untuk memeriksa pasien-pasien ini dan isolasi diri, ujar Academy pada NYTimes. WHO juga telah mengingatkan anggotanya bahwa CDC telah mendesak semua dokter untuk memprioritaskan kunjungan darurat dan harsu disegerakan untuk beberapa minggu ke depan dan untuk menjadwal ulang prosedur elektif.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya