Liputan6.com, Jakarta “Kenapa harus jadi pemeran utama, sih? Honormu sebagai pemeran pendukung bisa kubuat sama persis dengan pemeran utama,” ucap Produser Janu Haridra, padaku, Kavita Barata.
Pak Janu menyampaikan ini padaku ketika kami tengah makan malam di sebuah rumah makan di kawasan Cikini, Jakarta, Januari 2019. Mendengar penawaran Pak Janu, aku sedih sekaligus bahagia.
Advertisement
Sedih karena lagi-lagi mimpi jadi pemeran utama kandas. Bahagia, karena tak perlu mengerjakan banyak adegan, uang melimpah. “Bagaimana? Ini win-win solution, kan?” tanya Pak Janu. Dalam hitungan detik, tangan kirinya meraih tangan kananku. Entah mengapa, kubiarkan itu terjadi.
Perempuan di Permakaman
Malam itu, akhirnya aku resmi menjadi pemeran pendukung film Perempuan di Permakaman yang diangkat dari kisah viral di jagat maya. Peranku sebagai Kina, perempuan yang mengakhiri hidup usai mendapati dirinya diperdaya dua laki-laki di kampungnya. Pemeran utama pria dan wanita telah ditentukan, yakni Kalya Hasra dan Lavanya Narwanti.
Sejumlah pemeran pendukung lain dipilih berdasarkan audisi. Aku juga. Tapi lewat audisi jalur khusus. Usai bersantap, Pak Janu memintaku agar menginap di kediamannya, di Jakarta Selatan.
“Memangnya, istri Pak Janu enggak menanyakan kenapa Bapak enggak pulang malam ini?” tanyaku padanya. Dia diam namun tangannya sibuk membalas pesan WhatsApp.
“Pak?” tanyaku sekali lagi. Pak Janu masih diam. Barulah aku ingat. Dia pernah memintaku untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Pak saat sedang berdua.
Rumah Impian di Jakarta
“Mas Janu?”
“Aku bilang ke Parvati kalau sedang ke Singapura dengan dana pribadi. Akun medsos aku matikan, WhatsApp kubuat privat. Jadi tak ketahuan pesannya sudah kubaca atau belum. Lagian, dia kan gaptek.”
Rumah Pak Janu yang berada di salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan ini impianku sejak lama. Kapan, ya bisa punya rumah sendiri di sini? Pertanyaan itu selalu terlintas di benakku setiap kali naik ojek online melintasi daerah ini.
Dengan gaji sebagai figuran sinetron, pekerja lepas di salah satu perusahaan rintisan, dan sekali muncul jadi pemeran pendukung ala-ala di film, mau sampai beruban juga tidak akan terbeli.