SHOWBIZ UNCENSORED: Pacarku Ternyata Tidak Menyukai Wanita (Bagian 3)

Di bagian ke-3 Showbiz Uncensored makin seru kisah dramanya.

oleh Anjali LDiterbitkan 13 Januari 2020, 20:45 WIB
Showbiz Uncensored

Liputan6.com, Jakarta Tiga bulan berlalu sejak aku memergoki Riga dan Dion di ruang artis, aku masih belum bisa melupakannya. Hingga kini, masih tergambar jelas air muka Riga yang panik dalam kondisi telanjang dada. Yang bikin aku enggak habis pikir sampai sekarang, Dion saat itu tampak santai. Seolah tepergok sedang asyik-masyuk itu hal lumrah.

Setelah kupikir lebih jauh, hidup berbayang mantan tidak elok. Mantan yang belum tentu jadi kawan ke depan mestinya tidak perlu mengusik hidup kita. Kalau kemudian mantan jadi teman, ya alhamdulillah.

Syuting Seperti Cintanya telah selesai. Aku masih sering kontak dengan Dipta, sekadar bertanya kabar atau saling cela. Entah mengapa, bulan ini terpikir olehku untuk pelesir ke Yogyakarta. Tiga hari dua malam sepertinya lucu juga. Pengin ngebolang sendiri.


Yogyakarta Lucu Juga

Tugu Golong Gilig, sebagai ikon Kota Yogyakarta

Lawan mainku di Seperti Cintanya lainnya, Fara Lasinta, memberi tahu piknik sendiri sesekali penting. Manusia perlu berkomunikasi dengan diri sendiri. Mendengar diri sendiri. Tiket pesawat dan hotel berbintang kupesan lewat ponsel. Minggu depan, aku terbang ke Kota Gudeg.

Baru selesai transaksi tiket pesawat Jakarta-Yogyakarta (berangkat pulang) via jalur daring, seseorang meneleponku. Nomornya asing. Malas kuangkat. Karena memanggil ulang hingga tiga kali, akhirnya kujawab juga.

“Aduh, aduh. Elina Falguni, sibuknya sampai harus ditelepon empat kali baru diangkat,” cetus seseorang dari ujung telepon. Suaranya yang berat dan serak kuingat betul.

“Mas Gema Yudha?” tanyaku dengan nada bicara menggantung.

“Oh, nomor gue dihapus. Sudah bermigrasi dari layar kaca ke film, sih ya. Jadi kontak sama orang sinetron dihapus, deh.”

“Ya ampun, Mas bukan begitu.”


Tiba-tiba Telepon

Gema Yudha, sutradara sinetron Sayang Kuterlanjur Sayang (SKS), yang dibintangi Riga. Dulu, Gema yang meyakini bakat aktingku. Dia memperjuangkanku agar bisa menjadi pemeran pendukung di sinetron Luka Cinta. Kegigihannya membuat casting director dan produser luluh. Kujawab kesempatan itu dengan tampil antagonis.

Minim teriakan, namun banyak penonton bilang mataku culas dan mukaku penuh tipu daya. Tiga tahun membintangi Luka Cinta sebagai Lara, aku pindah ke layar lebar dan bertemu Dipta. Nah, Gema tiba-tiba menelepon ini aneh. Ada apa?

Lanjut Baca:

“Lin, Mas mau ngajak ngopi sekalian ngobrol sama Lina, boleh?” ajak Gema. Ajakan yang terdengar hati-hati. Tiga tahun syuting bareng Mas Gema, bertemu Senin sampai Sabtu. Aku tahu betul kebiasaannya. Kalau mendekat dengan bahasa yang hati-hati begini, biasanya ada hal superpenting dan tidak semua orang boleh tahu. “Wah, kalau Mas Gema sudah ngomong kayak gini, Lina enggak punya pilihan lain. Minggu boleh Mas, aku cuma tapping talk show. Dari jam 9 sampai 12 siang. Habis itu bebas, sih,” jawabku sembari mengajukan jadwal.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya