Bupati Lebak: Banjir dan Longsor Akibat Pembalakan dan Penambangan Emas

Pemkab Lebak tidak bisa berbuat banyak di kawasan tersebut lantaran masuk ke dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang dikelola oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)

oleh Yandhi Deslatama diperbarui 04 Jan 2020, 21:00 WIB
Ibu-ibu korban banjir bandang Lebak Banten menaruh harapan kepada pemerintah daerah agar segera mengirimkan bantuan kepada para korban terdampak. (Liputan6.com/ Yandhi Deslatama)

Liputan6.com, Jakarta Banjir bandang dan longsor yang menimpa enam kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, diduga akibat pembalakan liar dan penambangan emas ilegal.

"Selain ada penambangan liar, kemudian juga melakukan penambangan-penambangan yang itu di wilayah yamg tidak diperuntukkan untuk itu kan. Akhirnya klimaksnya itu tadi, terjadi bencana banjir itu," kata Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, kepada sejumlah awak media, Jumat (03/01/2020).

Menurut Iti, curah hujan tahun ini tidak begitu deras dibandingkan tahun 2018. Namun terjadi bencana alam banjir dan longsor yang parah.

Dia menyatakan Pemkab Lebak tidak bisa berbuat banyak di kawasan tersebut lantaran masuk ke dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang dikelola oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Wilayah longsoran dan banjir bandang berada di daerah dengan kemiringan mencapai 90 derajat.

"Kami sudah terus melakukan penyuluhan. Ini kan berada di kawasan taman nasional, menjadi kewenangan di pemerintah pusat di antaranya tadi dibawah Kementrian LHK. Kami tidak bisa melakukan tindakan tanpa sinergis dengan seluruhnya," ucapnya.

Akibat banjir dan longsor, banyak perkampungan yang terdampak. Terutama yang letak kampungnya berada di seberang Sungai Cibeurang. Akibatnya ketika jembatan putus atau rusak akibat banjir, perkampungan tersebut terisolasi.

Sembari mensuplai bantuan logistik ke korban bencana, Pemkab Lebak mengutamakan evakuasi warga dan membuka jalur menuju daerah yang masih terisolasi.

"Lebak ini antardesa, antarkampung, antar kecamatan banyak dilalui jembatan. Kalau jembatannya putus, maka otomatis tidak bisa mengakses kesana, di tambah jalannya ambles. Jadi (Kecamatan) Lebak Gedong itu curam, kemiringannya sekitar 90 derajat, di sana sinyal susah," ujarnya.

Iti menyebut, bencana banjir dan longsor di Lebak kali ini sebagai tsunami bentuk lain. Jika akhir tahun 2018 lalu sebagian pesisir Banten dihantam tsunami senyap Selat Sunda, maka awal tahun 2020 ini tsunami menghantam wilayah Lebak.

"Ini kejadian cukup besar di Kabupaten Lebak. Tsunami bentuk beda, kalau tsunami dari air laut, kalau ini luapan sungai yang tidak bisa dikendalikan," dia menuturkan.

Simak video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya