Liputan6.com, Jakarta - Rembulan Tenggelam di Wajahmu salah satu peserta persaingan box office Indonesia di akhir tahun. Dibekali naskah dari salah satu novel laris karya Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu tampaknya sudah punya penonton sendiri.
Syuting di Semarang, Jawa Tengah dan menampilkan sejumlah adegan baku hantam, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu merangkul penonton dengan pertanyaan universal tentang mengapa Tuhan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi di hidup kita.
Advertisement
Sebuah persoalan universal yang dirasakan umat beragama mana pun. Persoalan yang dekat dengan penonton ini, salah satu kekuatan Rembulan Tenggelam Di Wajahmu.
Ray dan Pria Berwajah Teduh
Kisahnya dari Ray (Arifin) yang dirawat di bangsal rumah sakit. Kondisi kritis membuatnya nyaris tak punya peluang sembuh. Suatu hari, di kamar rumah sakit, ia kedatangan pria (Cornelius) berwajah teduh. Pria ini memegang tangan Ray. Seketika Ray dibawa menembusi ruang dan waktu. Ray dibawa ke masa kecilnya yang kelam di Semarang.
Kala itu, Ray cilik (Bio One) tinggal di panti asuhan yang dibina Bapak (Egi) yang bengis. Ray tak menyukai pengelola panti asuhan karena kerap mengemplang bantuan untuk anak yatim piatu. Tak tahan dengan penindasan, Ray kabur. Ia menyambung hidup dengan mencopet dan berjudi. Peserta judi yang tak terima mengirim dua pesuruh untuk menghabisi nyawanya.
Beruntung, Ray selamat dan pindah ke rumah singgah Bang Ape (Ariyo). Di sana, Ray berkawan dengan Natan (Teuku), Ilham (Ari), Ouda (Allesandro) dan Oude (Allesandrio). Suatu hari, Ilham jadi korban pengeroyokan oleh oknum berandalan. Ray membalas. Tindakan ini berbuntut panjang. Dalam kondisi terjepit karena dikeroyok berandalan, Ray ditolong Bang Plee (Donny).
Disuapi dan Didongengi
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu terasa gamblang dari aspek penceritaan. Ray dewasa dan pria berwajah teduh bagaikan dalang yang mengantar penonton menikmati sejumlah segmen kehidupan karakter utama. Segmen dimulai dari pertanyaan Ray yakni, mengapa Tuhan membiarkannya hidup di panti asuhan.
Dari pertanyaan ini, Danial Rifki mengembangkan film ke sejumlah pertanyaan sampingan yang melibatkan sejumlah tokoh. Ini film tentang (maaf) anak bernasib malang yang menilai hidup dari sudut pandang negatif. Pria berwajah teduh menjabarkan dengan rumus sebab akibat. Karena si A melakukan sesuatu kepada si B, maka si B menjadi anu.