Liputan6.com, Jakarta: Sekilas bunyi musik grup gamelan ini mirip dengan musik Bali yang berirama cepat dan menghentak. Tapi mungkin Anda tak akan menyangka kalau itu adalah musik asli Betawi yang memiliki sedikit pengaruh Sunda.
Perbedaannya ada di dua alat musik, yaitu bende yang berukuran setengah gong kecil atau kempul dan demung atau di Bali biasa disebut gender. Musik ini bersifat sakral dan biasa ditampilkan dalam acara-acara khusus. Sayangnya, kini hanya satu grup gamelan ajeng yang masih aktif, dan para pemain musiknya sudah usia lanjut.
Penampilan gamelan ajeng ini adalah salah satu dari 40 kesenian Betawi tempo dulu yang digelar di Situ Babakan, Jakarta Selatan, Jumat (15/6). Rencananya acara ini akan berlangsung hingga Ahad nanti.
Setiap malam pengunjung disuguhi drama sendratari kolosal dengan beragam kisah sejarah Betawi. Sore tadi sekitar 70 seniman, termasuk capoera sudah bersiap membawakan lakon Syah Bandar yang akan dipentaskan pukul 19.00 WIB nanti.
Kisah ini menceritakan tentang perjuangan prajurit Yasamura atau yang dikenal sebagai Wak Item setelah diangkat oleh putri kerajaan Tanjung Jaya sebagai Kepala Pelabuhan Kalapa. Ia bertempur melawan prajurit Kerajaan Banten yang tidak menyetujui adanya kerjasama perdagangan dengan Portugis.(IAN)
Perbedaannya ada di dua alat musik, yaitu bende yang berukuran setengah gong kecil atau kempul dan demung atau di Bali biasa disebut gender. Musik ini bersifat sakral dan biasa ditampilkan dalam acara-acara khusus. Sayangnya, kini hanya satu grup gamelan ajeng yang masih aktif, dan para pemain musiknya sudah usia lanjut.
Penampilan gamelan ajeng ini adalah salah satu dari 40 kesenian Betawi tempo dulu yang digelar di Situ Babakan, Jakarta Selatan, Jumat (15/6). Rencananya acara ini akan berlangsung hingga Ahad nanti.
Setiap malam pengunjung disuguhi drama sendratari kolosal dengan beragam kisah sejarah Betawi. Sore tadi sekitar 70 seniman, termasuk capoera sudah bersiap membawakan lakon Syah Bandar yang akan dipentaskan pukul 19.00 WIB nanti.
Kisah ini menceritakan tentang perjuangan prajurit Yasamura atau yang dikenal sebagai Wak Item setelah diangkat oleh putri kerajaan Tanjung Jaya sebagai Kepala Pelabuhan Kalapa. Ia bertempur melawan prajurit Kerajaan Banten yang tidak menyetujui adanya kerjasama perdagangan dengan Portugis.(IAN)