Liputan6.com, Jakarta Ini tentang aku dan Aidan.
“Oh, jadi ini semua salah aku ya, Dan?” ucapku dengan suara bergetar. Tak dinyana, Aidan yang sangat kucintai, mengundangku ke sebuah lounge mewah di jantung kota Jakarta, bukan untuk menyampaikan kabar bahagia. Melainkan berita buruk. Semangatku dalam hitungan detik ambruk.
Advertisement
“Bukan, ini bukan salahmu, Lin. Enggak ada yang salah di sini,” sahut Aidan, yang hari itu tampak berkarisma mengenakan kemeja hitam lengan panjang, celana jin biru belel, makin ganteng dengan potongan rambut under-cut klimis.
Kami membisu beberapa detik. Aku, Lintang, pesinetron kondang yang diidolakan banyak orang, kala itu tak dapat menyembunyikan rasa kecewa. Mataku mendadak terasa berat karena membendung butiran bening yang mengendap di kedua ujungnya. Kucoba mengatur napas agar tak tampak megap-megap.
Malam itu, Aidan seperti tanpa beban. Beberapa kali, ia mereguk lime squash dan melumat beberapa ruas kentang goreng yang dipesan dari sejak duduk satu jam lalu. Setelah mengatur napas, perlahan kuberanikan diri menanyakan alasan Aidan memutuskanku.
Beda Prinsip
“Kita baru jalan empat bulan. Kenapa harus berakhir sih, Dan? tanyaku dengan suara lirih.
“Kita beda prinsip. Kamu sadar enggak, sih?” jawabnya kemudian menenggak minuman hingga tak bersisa.
“Prinsip yang mana?”
“Sudahlah. Kenapa, sih harus dibahas sedetail ini? Enggak ada gunanya lo bikin drama setelah semua ini berakhir, ya kan?”
“Oh gue tahu. Prinsip bahwa gue enggak mau diajak 'berhubungan' sebelum resmi menikah, kan?”
Jatuh Hati
Saat itu Aidan terdiam. Untuk mengalihkan perhatian ia kembali memesan minuman yang sama kepada pramusaji. Suasana hening kembali.
Aidan, vokalis band Spektra yang dikenal sangat komunikatif dengan audiens, itu mendadak tak punya kemampuan merangkai barang dua atau tiga kata.
Jangankan menjawab, ia malah asyik mengamati layar ponsel yang beberapa kali menyajikan notifikasi percakapan baru di WhatsApp. Sesekali ia tersenyum membaca notifikasi itu.
Senyum yang membuatku dan puluhan seleb lain jatuh hati padanya.
Punya Kuping
Dua menit setelah pramusaji meletakkan lime squash yang baru lalu silam dari ruang privat kami, aku melempar sebuah dugaan.