Layangan Putus Viral, Ini Cerita Lengkapnya

Layangan Putus menceritakan kisah hidup seorang wanita yang diibaratkan seperti layangan putus setelah berpisah dengan suami.

oleh Surya HadiansyahDiperbarui 30 Desember 2021, 19:17 WIB
Ilustrasi bercerai. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta - Kisah Layangan Putus masih saja menjadi bahan perbincangan di berbagai jejaring sosial. Kisah tersebut pun menarik simpati banyak warganet dari berbagai media sosial.

Kisah Layangan Putus ini pertama kali diunggah oleh sebuah akun Facebook bernama Mommi ASF. Pengunggah menceritakan kisah hidupnya yang ibarat layangan putus setelah berpisah dengan suami.

Di Instagram, Twitter, hingga Facebook, unggahan kisah Layangan Putus itu telah banyak diunggah ulang dan dibicarakan oleh warganet. Kisah layangan putus ini menceritakan tentang seorang istri dengan empat orang anak yang harus dibesarkannya.

Dalam ceritanya itu dikisahkan bahwa sang suami cukup dikenal religius bahkan punya beberapa channel YouTube dakwah. Belakangan sang suami diketahui menikah dengan seorang selebgram yang kini telah hijrah.

Berikut adalah kisah Layangan Putus yang viral tersebut. 


Tulisan Pertama

(ilustrasi)

Dendam Penulis By: Mommy ASF

Belasan tahun lalu, saat masih duduk dibangku SMA, aku memang suka menulis. Sekedar bercerita khayalan ABG demi mencari eksistensi diri. Kata orang bijak, penyakit yang tidak ada obatnya itu malas. Penyakit itu mengurung hobi menulisku. Dan seiring pertambahan usia dan kesibukan, urusan tulis menulis pun lupa sudah.

Berkembangnya jejaring sosial kembali menggelitik semangat menulisku. Sekedar merangkai kata distatus dan mengisi caption foto yang kuunggah.Walaupun isi nya hanya coretan receh berisi kebahagiaan dirumah bersama keluarga.

Hingga suatu ketika, kepedihan itu datang dari sana! Suami yang sudah kudampingi bertahun tahun, menemukan cinta baru pada seorang selebgram yang cantik, muda dan terkenal. Tanpa memandang status suamiku yang beranak empat, sang gadis cantik pun, rela dijadikan yang kedua .

Ku enyahkan semua akun sosial mediaku. Marah, benci, sedih membuatku anti sosial. Ku kambinghitamkan rasa hancurku pada sosial media. Membuka nya membuatku berduka. Tentu murka ku tak berdampak apa apa pada jejaring sosial yang kutinggalkan. Justru, perlahan kurasakan kehilangan tempat untuk menyalurkan hasrat menulis.

Allah Sang Maha Baik, mempertemukan aku dengan sahabat literasi. Seorang ibu yang menyarankanku untuk kembali menulis. Melampiaskan isi hati dan suka duka melalui aksara. "Writing is healing," sarannya.

Lanjut Baca:

Akhirnya inilah tulisan pertamaku. Cukup mengobati luka. Semoga, goresan tinta berikutnya mampu memberi energi positif bagi ku dan mengembalikan ketenangan. Jujur, ini bagai dendam yang tertunaikan. Mommy Bali 20 oktober 2019

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya