7 Pemain Bola Top yang Pernah Hidup Susah, Ada yang Jadi Kernet Bus

Menjadi pemain sepak bola top bisa mengangkat kehidupan seseorang, dari orang miskin menjadi jutawan.

oleh Novie RachmayantiDiterbitkan 14 Oktober 2019, 19:00 WIB
Bek Liverpool, Virgil Van Dijk, berebut bola dengan striker Barcelona, Luis Suarez, pada laga semifinal Liga Champions 2019 di Stadion Anfield, Selasa (7/5). Liverpool menang 4-0 atas Barcelona. (AP/Dave Thompson)

Jakarta Menjadi pesepak bola terkenal menjadi salah satu profesi yang diidam-idamkan banyak orang di berbagai belahan dunia. Pesepak bola dunia terkenal bisa hidup mewah karena mendapat gaji besar.

Namun, kesuksesan menjadi pesepak bola top dunia tentunya tidak bisa diraih secara instan. Banyak para pemain yang harus merasakan lika-liku kehidupan yang sulit sebelum sebelum menanjak kariernya.

Bahkan sebelum terkenal, ada pesepak bola top dunia yang harus bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan hidup pribadi maupun keluaranya.

Sebut saja Virgil van Dijk. Dia menjadi bek termahal dunia pada 2018 saat Liverpool meminangnya dari Southampton seharga 75 juta pounds (Rp1,3 triliun). Namun sebelum itu, bek Timnas Belanda itu juga pernah merasakan asam-manis kehidupan dengan pekerjaan di luar dugaan.

Masih banyak lagi pesepak bola yang dulunya hidup penuh keterbatasan dan berjuang mewujudkan mimpi hingga terkenal di kancah dunia. Berikut tim Bola.com merangkum tujuh pesepak bola yang pernah bekerja serabutan sebelum terkenal.

 


1. Virgil van Dijk: Tukang Cuci Piring

Bek Liverpool Virgil van Dijk memegang piala penghargaan Pemain Terbaik Eropa 2018-2019 selama undian babak grup di Grimaldi Forum, Monako, Kamis (29/8/2019). Virgil van Dijk berhasil mengungguli Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. (AP Photo/Daniel Cole)

Virgil van Dijk memulai karier saat meninggalkan tanah kelahirannya, Kota Breda, Belanda pada 2006. Saat itu Van Dijk baru berusia 15 tahun dan bergabung dengan akademi klub Liga teratas Belanda, Willem II.

Namun, sebelum itu Van Dijk harus membagi waktunya dengan menjadi karyawan di salah satu restoran sebagai tukang cuci piring.

"Sebelum saya menandatangani kontrak, saat saya berusia 15 tahun, saya bekerja sebagai pencuci piring di salah satu restoran di Kota Breda," ungkap Van Dijk, melansir dari BBC.

Setelah itu, Virgil van Dijk memutuskan pindah ke FC Groning pada 2010. Selama di sana, Van Dijk pergi ke tempat latihan dengan mengendarai sepeda.

"Ketika saya tiba di FC Groningen, saya harus bersepeda untuk pergi ke tempat latihan. Saya menggunakan gaji saya untuk mengikuti kursus mengemudi," jelas Van Dijk.

Lanjut Baca:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya