The Battle Roar to Victory, Keindahan Sinematografi Melukis Sebab dan Dampak Perang

The Battle: Roar to Victory mengisahkan masa Korea yang tunduk pada aturan Jepang pada tahun 1920.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 03 September 2019, 07:00 WIB
The Battle Roar to Victory. (Showbox Corp/Bigstone Pictures/ W-Pictures)

Liputan6.com, Jakarta - Makin banyak film Korea Selatan diimpor ke Tanah Air dengan kualitas cihuy. Setelah Exit, giliran film perang berbasis sejarah berjudul The Battle: Roar to Victory. The Battle: Roar to Victory menampilkan sepenggal kisah Korea di era pendudukan Jepang.

Penduduk Negeri Gingseng yang menolak aturan Jepang memperjuangkan kemerdekaan. The Battle: Roar to Victory bukan kisah yang utuh.

Sineas Won Shin-yun memilih satu kurun waktu lalu menjelaskan perkara dan dampaknya dengan detail. Seperti apa hasil akhir The Battle: Roar to Victory?

The Battle: Roar to Victory mengisahkan masa Korea yang tunduk pada aturan Jepang, tahun 1920. Sejumlah pejuang yang melakukan perlawanan dan memekikkan kemerdekaan ditangkap kemudian dibunuh.


Misi yang Nyaris Mustahil

The Battle Roar to Victory. (Showbox Corp/Bigstone Pictures/ W-Pictures)

Adalah dua pejuang yakni Hwang Hae-Chol (Yoo) dan Byeong-ku (Jo) melawan lewat jalur berbeda. Byeong-ku, seorang penembak jitu, lebih dulu ditangkap tentara elit Jepang. Sementara Har-cheol di tengah jalan bertemu komandan muda Lee Jang-ha (Ryu). Keduanya semula tak akur.

Apalagi setelah Hae-cheol tahu Jang-ha mengemban misi bunuh diri, menggiring pasukan Jepang ke lembah kematian. Keadaan memaksa Hae-cheol dan Jang-ha bahu membahu. Keduanya berupaya menjebak tentara elit Jepang sembari mengirim bantuan perang ke pemerintah Korea di Tiongkok.

Dalam melaksanakan misi yang nyaris mustahil ini, Hae-cheol dan Jang-ha dibantu Gae-Ddong (Sung), Choon-hee (Lee), dan Lee Ja-hyun (Choi). Tim yang diperkuat sekitar 30 orang ini melawan ratusan pasukan elit yang dipimpin beberapa komandan di antaranya, Letnan Pertama Yasukawa (Kazuki) dan Kunasaki (Hiroyuki).


Kekuatan Sinematografi

The Battle Roar to Victory. (Showbox Corp/Bigstone Pictures/ W-Pictures)

Hal yang tak terbantahkan dari film ini adalah kekuatan sinematografi. Apa pun yang dibingkai film ini tampak indah, puitis sekaligus dramatis. Adegan Byeong-ku diseret dengan kuda, ditusuk-tusuk pedang, terkapar di dataran berpasir, dan dikerubuti burung pemangsa bangkai amat indah. Kamera menyorot dengan format lanskap memperlihatkan tubuh sekarat, kuda yang membisu, dan pejuang yang meratapi. Adegan sadis di film ini memenuhi kaidah estetika.

Contoh lain yang membuat bibir menganga, saat tabung pualam berisi abu para pejuang tertembak. Abu yang tercecer kemudian dipungut dan diletakkan di secarik kain putih. Sepintas tak ada yang istimewa di adegan ini. Lalu, abu itu ditebar agar terbawa angin. Kamera lantas menyorot motif kain pembungkus abu pejuang itu. Bergulir tanpa banyak dialog, gambar yang bergerak menjelaskan definisi nasionalisme dan mahalnya harga kemerdekaan.

Lanjut Baca:

The Battle: Roar of Victory dengan detail menjelaskan satu demi satu dampak perang dari kemiskinan, korban jiwa, harta yang sia-sia, hingga tumpulnya rasa kemanusiaan. Khususnya adegan di Desa Samdunja. Sebagian dari data atau karakter film ini fiktif. Tentu saja sejumlah adegan didramatisasi. Meski demikian, kita masih bisa menikmati penggalan sejarah ini sebagai hiburan mengesankan. Apa pun yang tersaji di sini memantik berbagai emosi dari takut, tidak tega, terhibur (mengingat selera humor film ini boleh juga), hingga keleganan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya