Bumi Manusia: Potret Puitis Perlawanan, Keberanian dan Ketidakadilan

Ditilik dari barisan pemain, Bumi Manusia bisa dianggap menjanjikan.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 15 Agustus 2019, 09:20 WIB
Dok. Falcon Pictures

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu mahakarya yang diperebutkan lebih dari setengah lusin produser itu bernama Bumi Manusia. Terakhir, produser yang beroleh hak Bumi Manusia adalah Frederica, dari Falcon Pictures. Versi layar lebar, Bumi Manusia dipercayakan kepada Hanung Bramantyo.

Sebelumnya bersama Falcon Pictures, Hanung Bramantyo melahirkan Jomblo dan Benyamin Biang Kerok. Ditilik dari barisan pemain, Bumi Manusia menjanjikan. Posisi ujung tombak diisi Iqbaal Ramadhan dan Mawar De Jongh. Garis kedua diperkuat Donny Damara, Dewi Irawan, Ine Febriyanti, hingga Giorgino Abraham.

Hanung Bramantyo sadar, Bumi Manusia bagi sebagian generasi, khususnya milenial, terasa berat. Isu pribumi yang dipersamakan dengan hewan, sehingga tak boleh masuk ke rumah makan tertentu, bangsa yang jadi babu di tanah sendiri, kawin campur, perempuan Indies diperistri bule tanpa payung hukum yang jelas, hingga Eropa sebagai kiblat sosial budaya namun hukumnya berat sebelah.

Menengahi tumpukan isu yang terlalu serius ini, Hanung Bramantyo mengemas Bumi Manusia dengan lebih nge-pop. Maka jangan kaget jika bahasa Jawa yang digunakan dalam naskah terdengar sama dengan masyarakat Jawa Tengah dan Timur saat ini. Pun rayuan Minke (Iqbaal) di menit awal terasa seperti Dilan di era jadul.

Tak mau terlalu membuai, Hanung segera menggulirkan cerita Bumi Manusia dari sudut pandang tokoh utama. Minke terjaga dari tidur saat matahari telah meninggi dan pintu rumah singgahnya diketuk berkali-kali. Sang sahabat, Suurhof (Jerome), mengajak Minke berkunjung ke rumah Robert Mellema (Giorgino). Awalnya, Minke ogah-ogahan.

Saat kereta Suurhof menjemput, pendirian Minke luluh jua. Apalagi setelah tiba di kediaman Robert dan bertemu adiknya, Annelies (Mawar). “Tamumu sekarang menjadi tamuku, ayo masuk Minke,” ujar Annelies kepada Robert seraya mempersilakan Minke.

Lanjut Baca:

Terkesima dengan kecantikan Annelies, Minke menyimpulkan ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia memuji kecantikan Annelies, bahkan menciumnya. Gelagat cinta ini dicium Nyai Ontosoroh (Ine Febriyanti), ibunda Annelies dan Robert. Ontosoroh adalah wanita pribumi yang dijual ayahnya kepada seorang Belanda, Herman Mellema (Peter), demi kekuasaan. Menikah tanpa cinta, Ontosoroh menyerap banyak ilmu bisnis hingga mampu mendirikan perkebunan dan peternakan yang amat luas. Ontosoroh merestui kedekatan Minke dan putrinya. Kedekatan Minke dan Ontosoroh sampai ke telinga ayah (Donny) dan ibu Minke (Ayu). Masalah memanas setelah Herman ditemukan tewas di rumah pelacuran milik Babah Ah Tjong (Chew). Tragedi ini menguak kusutnya rumah tangga Ontosoroh yang berdampak pada hubungan Minke-Annelies.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya