Liputan6.com, Jakarta SCTV bukan saja dikenal stasiun yang memanjakan pemirsa dengan tayangan menarik dan memiiliki rating tinggi, tapi juga mengajak untuk gotong royong membantu sesama. Salah satunya Jembatan Asa.
Program Jembatan Asa tidak pernah absen dilakukan SCTV setiap tahun sejak tahun 2015. Program ini sebagai wujud kepedulian terhadap wilayah yang secara geografis aksesnya terputus karena rusak atau bahkan tidak tersedianya sarana jembatan.
Advertisement
Dalam siaran pers yang diterima Liputan6.com dijelaskan antusias pemirsa dalam mewujudkan kepeduliannya kepada warga yang membutuhkan fasilitas penghubung di wilayahya tercermin dari jumlah dana yang berhasil terhimpun sepanjang 4 tahun terakhir pelaksanaannya, yaitu total Rp 8.431.121.450.
Donasi yang disalurkan pemirsa SCTV dalam program Jembatan Asa kemudian diwujudkan dengan pendirian berbagai tipe jembatan, sesuai kebutuhan dan kondisi geografis wilayah yang membutuhkan.
Seperti kegiatan sosial pada bulan Ramadan lalu melalui program bertajuk “SCTV Cinta Anak Yatim” yang berhasil menghimpun dana pemirsa sebesar Rp 1.623.599.201.
Proses penyantunan dana sebesar Rp 10 juta kepada 162 Rumah Yatim-Piatu-Dhuafa yang menaungi anak-anak yang kurang beruntung tersebut, saat ini masih terus berlangsung. Kini, jelang perayaan ulang tahunnya yang ke-29, SCTV kembali membuka tradisi penggalangan dana untuk program Jembatan Asa.
Dampak Positif
David Suwarto selaku Deputy Director Programming SCTV berharap jembatan-jembatan yang sudah dibangun mampu menjadi penyambung berbagai harapan dari warga setempat. “Berkat budi baik pemirsa SCTV, kehidupan masyarakat di sekitar pembangunan jembatan berdampak positif menggerakkan sendi kehidupan sosial, budaya, perekonomian dan pendidikan setempat”, tambah David.
Beberapa cerita menggembirakan datang dari berbagai daerah yang kini sudah memiliki jembatan dari program ini. Seperti warga Desa Jayasari, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak – Banten yang sudah bisa menyebrang melalui jembatan saat musim hujan dengan aman terutama untuk anak-anak pergi ke sekolah karena sebelumnya ada seorang siswa kelas 5 SDN Pasir Kacapi yang jatuh tergelincir saat menyebrang ketika hendak pergi ke sekolah tahun lalu.
Begitu juga warga Desa Malalak Selatan, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam – Padang yang sudah tidak lagi merasakan derasnya arus sungai saat menyebrang untuk pergi ke sawah. Sementara itu warga dari Desa Tamekan, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat – NTB dan Desa Mekarjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang – Banten juga terbantu untuk mengangkut hasil kebun mereka dengan melintasi jembatan sehingga perjalanan mereka lebih cepat daripada sebelumnya dengan menggunakan sampan untuk menyebrang.