Liputan6.com, Cipelang: Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi mengungkapkan, alat penentu lokasi atau ELT yang terpasang di pesawat Sukhoi Superjet 100 merupakan jenis lama. Karena itu, pesawat tidak terdeteksi radar saat jatuh menabrak Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat.
Dalam jumpa pers, Senin (14/5), Tatang menjelaskan frekuensi ELT yang digunakan Sukhoi di bawah frekuensi yang digunakan radar pelacak.
Pernyataan ini dibenarkan pakar telematika Roy Suryo. "Yang kita jadikan panduan adalah monitor satelit yang kerja sama Basarnas, yang memonitor di frekuensi 406 MHz. Ternyata ELT yang digunakan pesawat Sukhoi ini masih menggunakan ELT frekuensi lama di 121.5 MHz. Akibatnya, tidak lagi termonitor, karena 12.5 VHF itu jenis pancarannya line off sight, lurus. Anggap radio FM terhalang gunung, tidak bisa mancar. Kemarin andaikan sempat on, ELT tidak terdengar karena terhalang gunung," kata Roy yang juga anggota Komisi I DPR ini.
Roy berpendapat pemasangan alat ELT lama ini sah-sah saja. Kendati demikian, barang bukti tersebut akan diserahkan kepada KNKT guna membantu penyelidikan penyebab pasti kecelakaan pesawat nahas tersebut.
Sebelumnya, tim evakuasi gabungan menemukan beberapa alat komunikasi pesawat Sukhoi Superjet 100 berupa alat Emergency Locator Transmitter (ELT) yang berfungsi sebagai pelempar sinyal. Selain itu tim juga menemukan Global Positioning System (GPS) dan dua kotak alat lainnya.(ADI/ULF)
Dalam jumpa pers, Senin (14/5), Tatang menjelaskan frekuensi ELT yang digunakan Sukhoi di bawah frekuensi yang digunakan radar pelacak.
Pernyataan ini dibenarkan pakar telematika Roy Suryo. "Yang kita jadikan panduan adalah monitor satelit yang kerja sama Basarnas, yang memonitor di frekuensi 406 MHz. Ternyata ELT yang digunakan pesawat Sukhoi ini masih menggunakan ELT frekuensi lama di 121.5 MHz. Akibatnya, tidak lagi termonitor, karena 12.5 VHF itu jenis pancarannya line off sight, lurus. Anggap radio FM terhalang gunung, tidak bisa mancar. Kemarin andaikan sempat on, ELT tidak terdengar karena terhalang gunung," kata Roy yang juga anggota Komisi I DPR ini.
Roy berpendapat pemasangan alat ELT lama ini sah-sah saja. Kendati demikian, barang bukti tersebut akan diserahkan kepada KNKT guna membantu penyelidikan penyebab pasti kecelakaan pesawat nahas tersebut.
Sebelumnya, tim evakuasi gabungan menemukan beberapa alat komunikasi pesawat Sukhoi Superjet 100 berupa alat Emergency Locator Transmitter (ELT) yang berfungsi sebagai pelempar sinyal. Selain itu tim juga menemukan Global Positioning System (GPS) dan dua kotak alat lainnya.(ADI/ULF)