Liputan6.com, Jakarta: Taruna, alumni, dan pengurus Yayasan Akademi Maritim Djadajat, Cilincing, Jakarta Utara, berikrar dan mengevaluasi diri. Mereka tak akan terlibat lagi dalam bentrokan, seperti yang terjadi awal tahun ini.
"Akademi Maritim memiliki ikatan solidaritas yang luar biasa, kami tidak akan berlarut dalam peristiwa itu. Kami akan menatap ke depan," kata Direktur Akademi Maritim Djadajat, Thamrin, Ahad (13/5), di Jakarta.
Thamrin dilantik menjadi Direktur Akademi Maritim Djadajat untuk periode 2012-2017. Dia menggantikan Laode Saiful Iwa. Dengan dilantiknya Thamrin sebagai Direktur, ia membawa misi menanamkan tanggung jawab di dalam Akademi. Dia juga menjamin ke depan tidak ada lagi kerusuhan.
Sebelumnya, pada Januari 2012, taruna dan pengurus Yayasan Akademi Maritim Djadajat di Jalan Sungai Tiram, Cilincing, ricuh. Taruna memukuli pengacara yayasan dan merusak fasilitas kampus. Taruna sempat menerobos pintu gerbang sekolah yang dijaga ketat polisi. Mereka juga mengejar orang-orang yang dianggap tidak berkepentingan dan diduga sebagai preman bayaran.
Peristiwa itu disulut oleh konflik internal yang terjadi antara pihak yayasan dan para taruna yang merasa ada ketidakadilan dan sikap yang tidak transparan dari yayasan [baca: Pengurus Yayasan dan Mahasiswa Maritim Bentrok].(ULF)
"Akademi Maritim memiliki ikatan solidaritas yang luar biasa, kami tidak akan berlarut dalam peristiwa itu. Kami akan menatap ke depan," kata Direktur Akademi Maritim Djadajat, Thamrin, Ahad (13/5), di Jakarta.
Thamrin dilantik menjadi Direktur Akademi Maritim Djadajat untuk periode 2012-2017. Dia menggantikan Laode Saiful Iwa. Dengan dilantiknya Thamrin sebagai Direktur, ia membawa misi menanamkan tanggung jawab di dalam Akademi. Dia juga menjamin ke depan tidak ada lagi kerusuhan.
Sebelumnya, pada Januari 2012, taruna dan pengurus Yayasan Akademi Maritim Djadajat di Jalan Sungai Tiram, Cilincing, ricuh. Taruna memukuli pengacara yayasan dan merusak fasilitas kampus. Taruna sempat menerobos pintu gerbang sekolah yang dijaga ketat polisi. Mereka juga mengejar orang-orang yang dianggap tidak berkepentingan dan diduga sebagai preman bayaran.
Peristiwa itu disulut oleh konflik internal yang terjadi antara pihak yayasan dan para taruna yang merasa ada ketidakadilan dan sikap yang tidak transparan dari yayasan [baca: Pengurus Yayasan dan Mahasiswa Maritim Bentrok].(ULF)