Ajax, Pembunuh Raksasa yang Terus Memburu Mangsa di Liga Champions

Ajax Amsterdam sukses menembus semifinal Liga Champions dan akan berhadapan dengan Tottenham untuk menentukan tiket ke final.

oleh Edu KrisnadefaDiterbitkan 18 April 2019, 17:15 WIB
Pemain Ajax Amsterdam merayakan sukses mereka ke semifinal Liga Champions. (AFP/Marco Bertorello)

Liputan6.com, Jakarta - Ajax Amsterdam jadi kejutan terbesar di Liga Champions musim ini. Klub asal Belanda ini sukses menembus semifinal, untuk pertama kalinya sejak musim 1996/97.

Bukan cuma outputnya, tiket ke semifinal. Melainkan juga kiprah gemilang mereka selama berlaga di turnamen antarklub paling elite se-Benua Eropa ini.

Sebelum memastikan tempat di empat besar Liga Champions 2018/19, Ajax menyingkirkan dua tim raksasa: Real Madrid (Spanyol) di 16 besar dan Juventus (Italia) di perempat final.

Los Blancos, julukan Real Madrid, mereka singkirkan dengan agregat 5-3. Sementara Juventus, mereka libas dengan selisih gol 3-2. Kemenangan 2-1 Selasa (16/4) atau Rabu dini WIB, di kandang Juventus, Allianz Stadium, menjadi bukti kehebatan Ajax. Di laga pertama sendiri, kedua tim bermain imbang 1-1.

Sebelumnya, di fase grup Daley Blind dan kawan-kawan juga mampu menyulitkan raksasa Jerman, Bayern Munchen. Dalam dua laga, klub berjulukan FC Hollywood itu mereka tahan 1-1 dan 3-3.

Di semifinal, De Amsterdammers akan berhadapan dengan wakil Inggris, Tottenham Hotspur. Dua laga semifinal ini akan digelar pada tanggal 31 April dan 8 Mei 2019.

Tak salah jika julukan Pembunuh Raksasa mulai dialamatkan kepada klub yang dilatih Eric Ten Hag ini.

"Saya tak berpikir mereka akan menjuarai Liga Champions. Tapi, mungkin saya salah. Yang jelas, tidak ada yang menduga mereka bisa lolos ke semifina. Mereka memainkan sepak bola yang sangat aktif," ujar Carlo Ancelotti, pelatih yang pernah membawa AC Milan dan Real Madrid juara Liga Champions.

Di awal turnamen, memang sangat sedikit yang menjagokan Ajax. Orang umumnya menganggap masa kejayaan Ajax di Eropa sudah berlalu, sejak mereka terakhir kali menjuarai Liga Champions di musim 1994/95, untuk keempat kalinya, di era Patrick Kluivert dan kawan-kawan.

 


Kejayaan Telah Berlalu

Aksi Federico Bernadeschi berusaha melewati pengawasan Frankie De Jong pada leg kedua laga perempat final Liga Champions yang berlangsung di Stadon Allianz, Turin, Rabu (17/4). Juventus kalah 1-2 Kontra Ajax. (AFP/Filippo Monteforte)

Ajax memang sempat menembus final Liga Champions semusim kemudian. Namun, mereka ditekuk Juventus lewat adu penalti. Begitu juga di musim selanjutnya. Ketika itu, langkah Ajax kembali dihentikan Juventus di semifinal.

Lanjut Baca:

Sejak era Milenial, Ajax lebih dikenal sebagai klub yang gemar menjual bintang-bintang muda mereka. Tujuannya apalagi, jika bukan untuk mencari keuntungan finansial. Tapi, musim ini berbeda. Berbekal kombinasi skuat muda, plus bantuan pemain-pemain veteran seperti Daley Blind, Jan Klaas Huntelaar, serta Dusan Tadic, mereka mampu mengguncang Eropa. Ten Hag, sang pelatih membuka rahasia sukses Ajax. "Kami kembali ke filosofi dasar Ajax, yaitu bermain melebihi limit. Kami berhasil melakukannya lagi," ujarnya. Dengan filosofi itu, Ten Hag mengaku tak takut menghadapi tim sehebat apapun. Justru, kata Ten Hag, tim lawan yang gentar kepada mereka.“Juventus terlihat takut kepada kami, begitu juga dengan Real Madrid. Gaya bermain kami telah membuat mereka gentar," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya