Piala Presiden yang Tak Jemu Hasilkan Terobosan Baru

Pepatah ‘tak ada yang baru di kolong langit’ sepertinya tidak berlaku bagi turnamen Piala Presiden.

oleh Luthfie FebriantoDiterbitkan 12 April 2019, 11:00 WIB
Piala Presiden 2019

Liputan6.com, Jakarta - Pepatah ‘tak ada yang baru di kolong langit’ sepertinya tidak berlaku bagi turnamen Piala Presiden. Pasalnya, di setiap gelarannya, Piala Presiden selalu menghadirkan sesuatu yang baru.

Pertama kali digelar pada 2015, Piala Presiden sudah mengentak lewat desain trofi yang terbuat dari kayu. Padahal biasanya, trofi terbuat dari tembaga atau emas.

Meski berbahan dasar kayu, trofi Piala Presiden tidak bisa dipandang sebelah mata. Kayu yang menjadi bahan pembuatan trofi merupakan trofi kayu jati yang berumur puluhan tahun dan berharga jutaan rupiah.

Pembuatan trofi yang dibuat oleh seniman Bali, Ida Bagus Ketut Lasem ini pun  membutuhkan kesabaran dan ketelitian ini juga melambangkan filosofi yang ingin diangkat dalam pembinaan sepak bola di Indonesia.

Namun yang menjadi sorotan dari edisi pertama bukan hanya soal trofi, melainkan keberhasilan menggelar final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta antara Persib Bandung vs Sriwijaya FC.

 

Suporter dan Pemain Persib Bandung merayakan gelar juara Final Piala Presiden 2015 di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu(18/10/2015). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun).

Seperti diketahui, suporter Persib (bobotoh) merupakan rival suporter Persija, Jakmania, yang notabene ‘tuan rumah’ partai final. Sempat muncul resistensi agar partai final tak digelar di Jakarta. Namun pada akhirnya, final berhasil digelar dengan damai dan bobotoh bisa datang ke Ibukota untuk melihat Persib juara Piala Presiden edisi pertama.

Usaha agar Bobotoh tetap datang ke Jakarta tidaklah mudah. Pengawalan ketat mulai dari Bandung hingga Jakarta diterapkan pihak keamanan. Bukan hanya mereka yang datang dengan bus, pihak kepolisian juga mengawal Bobotoh yang datang menggunakan kereta api.  

Kerja keras panitia dan pihak keamanan pada akhirnya membuat final Piala Presiden 2015 berjalan aman. Persib keluar sebagai pemenang dengan skor 2-0 atas Sriwijaya FC, dan Bobotoh pun bisa pulang ke Bandung dengan aman.

Kesuksesan mendatangkan Bobotoh ke Jakarta pun menjadi sesuatu yang baru setelah rivalitas antara Bobotoh dan Jakmania mengemuka.

 


Piala Presiden 2017

Pemain Arema FC merayakan gelar juara Piala Presiden 2017 (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Piala Presiden 2017 pun tak mau kalah. Kali ini, giliran peraturan yang dikutak-katik PSSI, salah satunya adalah kewajiban memainkan pemain U-23 selama 45 menit. Tujuan dari peraturan ini tak lain adalah untuk pembinaan usia muda. Bhayangkara FC tercatat sebagai peserta dengan komposisi pemain U-23 terbanyak yakni 16 pemain.

Lanjut Baca:

Hasil dari peraturan ini tak sia-sia. Beberapa nama pemain U-23 yang mentas di Piala Presiden 2017 sukses muncul sebagai bintang baru di persepak bolaan nasional. Sebut saja nama Febri Haryadi (Persib Bandung), yang menjelma menjadi andalan tim nasional Indonesia. Di Piala Presiden 2017, Febri masih berusia 21 tahun. Di Piala Presiden 2017, Febri pun mendapat penghargaan sebagai pemain muda terbaik. Febri menyingkirkan empat kandidat lain, yakni dua pemain Arema FC, Hanif Abdurrauf Sjahbandi dan Bagas Adi Nugroho, kemudian Terens Priska Owang Puhiri (Pusamania Borneo FC), dan rekan Febri di Persib, Gian Zola Nasrulloh. Piala Presiden 2017 pun menjelma pintu bagi mereka untuk masuk ke pentas sepak bola nasional. Terbukti, lima pemain yang masuk nominasi kemudian berhasil mendapatkan tempat di kancah sepak bola Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya