Liputan6.com, Jakarta - Rehabilitasi orangutan Kalimantan masih terus dilakukan oleh Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo bekerjasama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
Hal itu juga dilakukan lantaran, industri kelapa sawit kerap menuai sorotan dalam isu lingkungan, namun PTPN IV PalmCo mencoba menunjukkan wajah lain dari industri ini yang bertanggung jawab dan peduli pada konservasi orangutan tersebut.
Advertisement
Menurut Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa, langkah ini bukan sekadar bagian dari program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL), melainkan menjadi bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.
"Tiga individu orangutan, yakni Christina, Oka, dan Zahri, akan menjalani proses rehabilitasi hingga siap dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Keberadaan orangutan adalah simbol keseimbangan hutan tropis Indonesia," ujar Jatmiko, dalam pernyataan tertulisnya, Senin (29/9/2025).
"Dengan mendukung rehabilitasi ini, kami ingin memastikan bahwa bisnis dan konservasi dapat berjalan beriringan," sambung dia.
Dalam kegiatan penyerahan bantuan yang dilakukan di Samboja, Kalimantan Timur, Jumat 26 September 2025 lalu, jajaran pimpinan PalmCo hadir langsung, termasuk Direktur Hubungan Kelembagaan Irwan Perangin Angin dan Komisaris Arie Yuriwin.
"Konservasi tak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat," ucap Irwan.
Ia menekankan, kemitraan dengan BOSF akan terus diperluas, tidak hanya dalam bentuk rehabilitasi, tetapi juga melalui edukasi lingkungan dan pencegahan konflik antara manusia dan satwa.
Menurut Irwan, industri sawit yang bertanggung jawab seharusnya mampu menunjukkan kontribusi konkret terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.
"Kami tidak berhenti pada program ini. Ini adalah langkah awal dari kerja sama jangka panjang," terang dia.
Rehabilitasi Satwa Liar
Menurut Irwan, PTPN IV PalmCo bukan satu-satunya aktor dalam isu konservasi. Namun, melalui kemitraan dengan BOSF dan keterlibatan langsung dalam rehabilitasi satwa liar, perusahaan ini berupaya membuka jalan menuju tata kelola industri sawit yang lebih berkelanjutan.
"PalmCo percaya konservasi bukan tugas eksklusif lembaga swadaya masyarakat atau negara. Dunia usaha, dengan sumber daya dan pengaruhnya, juga memiliki peran penting dalam melindungi lingkungan," kata dia.
"Dan dengan menggandeng Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), salah satu organisasi non-profit yang telah berdiri sejak 1991 serta menjadi salah satu lembaga terdepan dalam upaya penyelamatan dan rehabilitasi orangutan di Indonesia, diyakini dapat bermanfaat bagi lingkungan. Bila dijalankan dengan tulus dan konsisten, langkah kecil seperti ini bisa berdampak besar bagi masa depan hutan Indonesia," sambung Irwan.
Indikator Kesehatan Hutan
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dikenal sebagai spesies kunci dalam ekosistem hutan hujan tropis. Keberadaan mereka menjadi indikator kesehatan hutan.
Irwan menegaskan, menyelamatkan orangutan berarti turut menjaga hutan Indonesia, salah satu paru-paru dunia. Bantuan PTPN IV PalmCo untuk rehabilitasi ini memberikan kesempatan kedua bagi individu orangutan yang sebelumnya diselamatkan dari kondisi kritis.
"Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan mampu mengembalikan mereka ke alam bebas dengan keterampilan bertahan hidup yang memadai," terang dia.
"Langkah ini juga mempertegas bahwa keberlanjutan bukanlah wacana, melainkan tindakan nyata. Sebuah pesan yang ingin disampaikan PalmCo kepada publik, bahwa industri kelapa sawit dapat menjadi bagian dari solusi, bukan hanya sumber persoalan lingkungan," jelas Irwan.
Selaras dengan itu, Komisaris Arie Yuriwin turut menegaskan, pelestarian lingkungan harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis.
"Pelestarian bukan pilihan, tapi kewajiban. Dunia usaha harus menjadi motor penggerak keberlanjutan," tegasnya.