Mengenang 7 Prestasi Tak Terlupakan Liliyana Natsir di Kancah Bulu Tangkis Dunia

Liliyana Natsir memutuskan pensiun dari bulu tangkis seusai Indonesia Masters 2019.

oleh Yus Mei SawitriDiterbitkan 27 Januari 2019, 18:35 WIB
Momen-momen Liliyana Natsir, pebulutangkis Indonesia. (Bola.com/Dody Iryawan)

Jakarta Liliyana Natsir akhirnya menggantungkan raket kesayangannya setelah 17 tahun berjuang di tim nasional bulu tangkis Indonesia. 

Keputusan Liliyana Natsir meninggalkan bulu tangkis yang dicintainya menjadi kehilangan besar bagi Indonesia. Bulu tangkis Indonesia telah kehilangan salah satu mutiara terbaiknya. 

Liliyana adalah salah satu pemain spesialis ganda campuran terbaik di dunia. Dia juga piawai bermain di sektor ganda putri. Deretan gelar bergengsi di lemari pialanya menjadi bukti sahih. 

Jika medali emas dan perak olimpiade belum cukup memberi bukti, maka tengok saja deretan gelar bergengsi lainnya yang dikantongi perempuan kelahiran Manado, Sulawesi Utara tersebut. 

Liliyana juga mengoleksi empat medali emas Kejuaraan Dunia dan pernah menorehkan hattrick di kancah turnamen bulu tangkis paling legendaris, All England. 

Apa yang membuat Liliyana Nastir begitu istimewa? Visi permainan, kecerdikan dalam mengatur taktik, dan terutama dominasinya di depan net. Liliyana hampir tiada duanya.   

Namun, tak ada yang abadi di dunia. Liliyana tak bisa melawan usia. Dia memilih menyudahi kariernya pada 2019, tepat di depan pendukung setianya di Istora, pada momen Indonesia Masters 2019. 

Berikut ini deretan momen-momen gemilang Liliyana Natsir sepanjang kariernya di kancah bulu tangkis dunia. 

 


Medali Emas Olimpiade

Ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, merebut medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, pada partai final di Riocentrio, Rabu (17/8/2016) WIB. (AFP/Goh Chai Hin)

Olimpiade Rio de Janeiro 2016 merupakan puncak karier Liliyana Natsir di kancah bulu tangkis dunia. Atlet kelahiran Manado tersebut akhirnya bisa merengkuh lambang supremasi tertinggi bagi pemain bulu tangkis, yaitu medali emas Olimpiade.

Berpasangan dengan Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir merebut medali emas setelah menang atas pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, 21-14 dan 21-12, pada 17 Agustus 2016. Medali emas tersebut menjadi semakin spesial karena diraih bertepatan dengan hari ulang tahun ke-71 Republik Indonesia.

Gelar tersebut juga menjadi pelunasan utang oleh Tontowi/Liliyana. Pasangan yang akrab disapa Owi/Butet tersebut merasa berutang karena gagal menyumbangkan medali pada ajang Olimpiade London 2012. Utang tersebut akhirnya berhasil dilunasi di Rio de Janeiro.

Pada Olimpiade 2012, langkah Tontowi/Liliyana terhenti di semifinal. Mereka juga kalah pada perebutan medali perunggu dari ganda Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen.

Lanjut Baca:

Kekalahan tersebut memupuskan harapan Indonesia untuk meneruskan tradisi emas bulu tangkis di Olimpiade. Sejak 1992 hingga 2008, atlet bulu tangkis selalu rutin menyetor medali emas. Namun, tradisi tersebut putus pada 2012. Sebelumnya, bulu tangkis sudah menyumbang enam medali emas untuk Indonesia. Dimulai dari Susy Susanti dan Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992, Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky di Olimpiade Atlanta 1996, Tony Gunawan/Candra Wijaya di Olimpiade Sydney 2000, Taufik Hidayat di Olimpiade Athena 2004, dan terakhir Markis Kido/Hendra Setiawan di Olimpiade Beijing 2008. “Saya lega, bangga, senang. Karena Indonesia biasanya tradisi emas, tapi di Olimpiade London 2012 kami berutang bawa medali. Sekarang langsung kami bayar utangnya. Senang sekali,” kata Liliyana, seperti dilansir situs PBSI, Kamis (18/8/2016). “Saya tidak bisa berkata-kata. Luar biasa rasanya. Ini saya persembahkan untuk hari kemerdekaan Republik Indonesia,” timpal Tontowi. Khusus buat Liliyana, medali emas Olimpiade akhirnya menjawab penantian panjangnya. Olimpiade Rio merupakan yang ketiga buat Liliyana. Pada dua kesempatan sebelumnya, pemain asal Manado tersebut selalu gagal merebut medali emas. Pada Olimpiade Beijing 2008, Liliyana yang berpasangan dengan Nova Widianto, mampu menembus babak final. Sayang, mereka harus mengakui keunggulan pasangan Korea Selatan, Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung, lewat pertarungan dua gim dengan skor 11-21, 17-21. Kenyataan lebih pahit dialami Liliyana pada Olimpiade London 2012. Berduet dengan Tontowi, pemain yang akrab disapa Butet itu hanya mampu menembus semifinal. Pada babak 4 besar, Tontowi/Liliyana harus tunduk dari Xu Chen/Ma Jin, dengan skor 23–16, 18–21, 13–21. Pada perebutan medali perunggu, Tontowi/Liliyana kembali gagal. Mereka takluk dari pasangan Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, dengan skor 12-21 dan 12-21.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya