BNPB Ungkap Penyebab Gempa Palu dan Donggala Makan Banyak Korban

Gempa yang diikuti tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018, memakan korban jiwa mencapai 400 orang lebih.

oleh Nafiysul QodarDiterbitkan 30 September 2018, 12:43 WIB
Orang-orang melihat kerusakan pantai yang terkena tsunami setelah gempa kuat disusul tsunami menghantam Kota Palu di Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). Dampak dari bencana tersebut melulunlantakkan bangunan dan ratusan jiwa meninggal dunia. (AFP/Bay ISMOYO)

Liputan6.com, Jakarta Gempa bumi yang diikuti tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018, memakan korban jiwa mencapai 400 orang lebih. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan sejumlah faktor penyebab banyaknya korban jiwa pada gempatersebut. Salah satunya tidak ada sirine deteksi dini tsunami yang berbunyi.

Saat gempa terjadi, Sutopo menambahkan, masih banyak masyarakat yang beraktivitas di sekitar pantai. Lantaran tidak ada sirine atau penanda potensi terjadinya tsunami, masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak segera mencari tempat yang lebih aman.

"Masyarakat banyak yang tidak tahu ancamannya sehingga masih melakukan aktivitas di pantai. Akhirnya banyak korban akibat tsunami," ujar Sutopo dalam akun Twitter yang dikutip Liputan6.com, Minggu (30/9/2018).

Menurut Sutopo, mereka yang selamat dari terjangan gempa dan tsunami rata-rata karena tengah berada di tempat-tempat yang lebih tinggi.

"Terbatasnya peringatan dini, pengetahuan dan perilaku antisipasi tsunami, shelter dan tata ruang menyebabkan masih banyak korban akibat tsunami," ucapnya.

PMI Kerahkan 2 Helikopter

Sebuah mobil yang membawa peti mati dari kerabat mereka melintas saat warga menjarah toko serba ada setelah gempa dan tsunami di Palu, Sulteng, Minggu (30/9). Warga terpaksa mengambil karena membutuhkan makanan dan air bersih. (AFP PHOTO/BAY ISMOYO)

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla menginstruksikan agar dua unit Helikopter dikerahkan ke lokasi bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Helikopter tipe Bolcow BO-105 itu akan diberangkatkan dari Hanggar Bukit Baruga, Makassar.

Nantinya, helikopter tersebut digunakan untuk men-dropping makanan dan obat-obatan, serta tim medis di medan yang sulit dijangkau moda transportasi darat dan laut.

"Berdasarkan pengalaman gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai Sumbar, Oktober 2010 lalu, Helikopter ini sangat bermanfaat digunakan para relawan dalam menyalurkan bantuan dan mengangkut korban yang membutuhkan pertolongan medis dalam waktu cepat," ucap JK dalam keterangannya, Minggu (30/9/2018).

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya