Liputan6.com, Jakarta: Jakarta Fair 2002 telah dibuka Wakil Presiden Hamzah Haz di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Timur, Jumat silam [baca: Wapres Membuka Soft Opening Jakarta Fair 2002]. Masyarakat berbondong-bondong datang untuk melihat stan milik 1.504 peserta dari dalam dan luar negeri. Sayangnya, sampai Ahad (16/6) ini, pengaturan acara oleh panitia pelaksana masih semerawut.
Hal itu terlihat sejak pintu gerbang--lantaran ternyata petugas tak membuka semua pintu masuk ke dalam arena. Bahkan, antrean pengunjung tampak menular hingga ke luar pagar halaman PRJ. Sejumlah fasilitas pendukung seperti papan penunjuk arah dan sarana transportasi umum menuju Kemayoran, minim. Tak heran, banyak pengunjung yang mesti berputar untuk menemukan toilet atau keluar dari arena.
Ironisnya, segala kekurangan tersebut harus dibayar mahal para pengunjung. Buktinya, panitia menarik uang tiket relatif mahal seharga Rp 6000 per orang pada hari kerja. Sedangkan di hari libur naik menjadi Rp 7.500 per orang. "Itu sih mahal sekali. Padahal, PRJ diadakan untuk seluruh warga," kata seorang pengunjung kepada SCTV.
Kondisi ini seperti memperlihatkan ketidaksiapan panitia dalam mengantisipasi kedatangan pengunjung. Padahal, dilihat dari jadwal pertunjukan dan stan-stan yang dipamerkan, ajang kali ini jelas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja pergelaran layar tancap yang sengaja diagendakan panitia. Hal ini paling tidak bisa meningkatkan animo warga Jakarta buat datang ke PRJ. Buntutnya, tinggal persiapan panitia buat mengantisipasi lonjakan pengunjung. Merujuk data jumlah pengunjung yang datang di hari pembukaan, Jakarta Fair 2002 didatangi sekitar 47.500 pengunjung. Padahal, tahun silam hanya 37.900 orang.
Namun, tudingan yang mengatakan bahwa panitia tidak siap mengelola Jakarta Fair 2002, termasuk mengantisipasi lonjakan pengunjung, dibantah Ketua Panitia PRJ 2002 Guruh Sukarnoputra. Menurut putra mantan Presiden Soekarno ini, secara umum panitia Jakarta Fair 2002 sudah siap. Kendala yang ada lebih disebabkan luas areal--44 hektare--yang lebih besar ketimbang Jakarta Fair tahun silam.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Hal itu terlihat sejak pintu gerbang--lantaran ternyata petugas tak membuka semua pintu masuk ke dalam arena. Bahkan, antrean pengunjung tampak menular hingga ke luar pagar halaman PRJ. Sejumlah fasilitas pendukung seperti papan penunjuk arah dan sarana transportasi umum menuju Kemayoran, minim. Tak heran, banyak pengunjung yang mesti berputar untuk menemukan toilet atau keluar dari arena.
Ironisnya, segala kekurangan tersebut harus dibayar mahal para pengunjung. Buktinya, panitia menarik uang tiket relatif mahal seharga Rp 6000 per orang pada hari kerja. Sedangkan di hari libur naik menjadi Rp 7.500 per orang. "Itu sih mahal sekali. Padahal, PRJ diadakan untuk seluruh warga," kata seorang pengunjung kepada SCTV.
Kondisi ini seperti memperlihatkan ketidaksiapan panitia dalam mengantisipasi kedatangan pengunjung. Padahal, dilihat dari jadwal pertunjukan dan stan-stan yang dipamerkan, ajang kali ini jelas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja pergelaran layar tancap yang sengaja diagendakan panitia. Hal ini paling tidak bisa meningkatkan animo warga Jakarta buat datang ke PRJ. Buntutnya, tinggal persiapan panitia buat mengantisipasi lonjakan pengunjung. Merujuk data jumlah pengunjung yang datang di hari pembukaan, Jakarta Fair 2002 didatangi sekitar 47.500 pengunjung. Padahal, tahun silam hanya 37.900 orang.
Namun, tudingan yang mengatakan bahwa panitia tidak siap mengelola Jakarta Fair 2002, termasuk mengantisipasi lonjakan pengunjung, dibantah Ketua Panitia PRJ 2002 Guruh Sukarnoputra. Menurut putra mantan Presiden Soekarno ini, secara umum panitia Jakarta Fair 2002 sudah siap. Kendala yang ada lebih disebabkan luas areal--44 hektare--yang lebih besar ketimbang Jakarta Fair tahun silam.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)