Mabes Polri Akan Evaluasi Kapolres Jaksel

Pernyataan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Imam Sugianto yang menyebut wartawan sebagai pemicu bentrokan di depan SMUN 6 Jakarta mendapat tanggapan serius. Mabes Polri akan mengevaluasi Imam.

oleh Liputan6Diterbitkan 23 September 2011, 17:07 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Pernyataan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Imam Sugianto yang menyebutkan bahwa wartawan sebagai pemicu keributan dengan pelajar SMUN 6 Jakarta mendapat tanggapan serius. Mabes Polri berencana mengevaluasi Imam.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam menyatakan, Polri akan mengevaluasi pernyataan Kapolres Jakarta Selatan untuk meluruskan keterangannya tersebut. Soalnya keributan antara wartawan dan pelajar SMUN 6 Jakarta masih dalam proses penyelidikan dan belum ada putusan.

"Nanti kita evaluasi ya, nanti kita akan luruskan, statement itu akan kita tanya kepada Kapolresnya. Kita akan beritahu Kapolresnya supaya tidak diskriminatif lagi," ucap Anton saat ditemui di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta, Jumat (23/9).

Anton mengimbau Kapolres Jakarta Selatan Imam Sugianto segera menyelesaikan kasus tersebut secara profesional dan netral. "Ya Kapolres harus menegakkan hukum ya, dua-duanya harus ditegakkan. Polisi juga harus netral," katanya.

Menurut Anton, Polri menyerahkan permasalahan yang terjadi pada wartawan kepada Dewan Pers. "Nanti kan ada Dewan Pers, nanti urusan wartawan itu selalu kita akan koordinasi dengan Dewan Pers," tandasnya.

Sebelumnya, Kapolres Jakarta Selatan Kombes Imam Sugianto mengatakan bentrokan yang terjadi antara pelajar SMUN 6 dan wartawan dipicu oleh aksi wartawan di depan sekolah tersebut. Saat itu wartawan minta pertanggungjawaban sekolah atas perampasan kaset dan pemukulan kamerawan Trans7.

Menurut Imam, kejadian perampasan dan pemukulan yang dilakukan oleh pelajar SMUN 6 Jakarta terhadap kamerawan Trans 7 Oktaviardi pada Jumat lalu seusai meliput tawuran pelajar SMUN 70 dan SMUN 6 Jakarta bukanlah pemicunya. "Jumat bukan pemicu, wartawan yang berorasi di depan SMA adalah pemicunya. Kasus perampasan kan sudah dilaporkan ke polisi, kenapa harus datang lagi ke sini (SMUN 6) untuk klarifikasi," ucap Imam usai koordinasi dengan pihak sekolah dan wali murid di SMUN 6.(ADI/ULF)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya