Liputan6.com, Sleman: Desa Wisata Turgo di Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap menyambut wisatawan yang ingin menikmati keindahan suasana alam lereng Gunung Merapi pada musim liburan Lebaran 2011 ini. "Desa Wisata Turgo menyajikan keindahan alam pedesaan kawasan perbukitan lereng Gunung Merapi yang berhawa sejuk dengan hamparan kebun teh dan kopi yang dibudidayakan warga. Wisatawan dapat ikut dalam aktivitas mulai dari memetik pucuk daun teh hingga mengolahnya menjadi siap minum," kata pengelola Desa Wisata Turgo Triyanto.
Menurut Turgo, wisatawan akan berbaur dalam aktivitas masyarakat setempat, serta dilibatkan langsung dalam membuat teh dan kopi khas Merapi secara tradisional di rumah-rumah penduduk setempat. "Wisatawan dapat terlibat langsung dalam proses pembuatan minuman khas yang telah menjadi komoditas andalan desa kami, mulai dari memetik hingga siap saji karena kebun teh maupun kopi berada di sekitar rumah penduduk," katanya.
Turgo mengatakan, wisatawan yang datang ke Wisata Turgo juga dapat menikmati menikmati panorama indah kawasan lereng Merapi, serta flora dan fauna yang hidup di kawasan itu. "Kami juga menyiapkan sejumlah pemandu yang membantu mendampingi wisatawan saat melakukan trekking. Selama ini juga banyak wisatawan yang juga berziarah di petilasan makam Syech Jumadil Kubro di Puncak Bukit Turgo," katanya.
Triyanto mengatakan, potensi lain sebagai desa wisata terdapat pula area berkemah, paket wisata memerah susu sapi. "Sedangkan kuliner khas warga Turgo ini adalah sayur enthik atau ubi talas yang memiliki cita rasa khas lereng Merapi," katanya.
Turgo mengatakan, untuk hiburan seni budaya tradisional yang ada di Turgo adalah kesenian jathilan atau kuda lumping yang siap dimainkan setiap saat sesuai permintaan. "Menyaksikan panorama keindahan alam Desa Wisata Turgo belum lengkap bila tidak menikmatinya melalui gardu pandang. Dari gardu pandang ini wisatawan dapat melihat lebih jelas panorama Bukit Turgo dan hamparan wilayah Desa Turgo yang pernah dilanda awan panas erupsi Merapi 1994," katanya.
Selain paket menginap di rumah-rumah penduduk, Desa Wisata Turgo itu juga melayani paket satu hari tanpa menginap dengan sajian yang sama. (Ant/SHA)
Menurut Turgo, wisatawan akan berbaur dalam aktivitas masyarakat setempat, serta dilibatkan langsung dalam membuat teh dan kopi khas Merapi secara tradisional di rumah-rumah penduduk setempat. "Wisatawan dapat terlibat langsung dalam proses pembuatan minuman khas yang telah menjadi komoditas andalan desa kami, mulai dari memetik hingga siap saji karena kebun teh maupun kopi berada di sekitar rumah penduduk," katanya.
Turgo mengatakan, wisatawan yang datang ke Wisata Turgo juga dapat menikmati menikmati panorama indah kawasan lereng Merapi, serta flora dan fauna yang hidup di kawasan itu. "Kami juga menyiapkan sejumlah pemandu yang membantu mendampingi wisatawan saat melakukan trekking. Selama ini juga banyak wisatawan yang juga berziarah di petilasan makam Syech Jumadil Kubro di Puncak Bukit Turgo," katanya.
Triyanto mengatakan, potensi lain sebagai desa wisata terdapat pula area berkemah, paket wisata memerah susu sapi. "Sedangkan kuliner khas warga Turgo ini adalah sayur enthik atau ubi talas yang memiliki cita rasa khas lereng Merapi," katanya.
Turgo mengatakan, untuk hiburan seni budaya tradisional yang ada di Turgo adalah kesenian jathilan atau kuda lumping yang siap dimainkan setiap saat sesuai permintaan. "Menyaksikan panorama keindahan alam Desa Wisata Turgo belum lengkap bila tidak menikmatinya melalui gardu pandang. Dari gardu pandang ini wisatawan dapat melihat lebih jelas panorama Bukit Turgo dan hamparan wilayah Desa Turgo yang pernah dilanda awan panas erupsi Merapi 1994," katanya.
Selain paket menginap di rumah-rumah penduduk, Desa Wisata Turgo itu juga melayani paket satu hari tanpa menginap dengan sajian yang sama. (Ant/SHA)