Liputan6.com, Merfelfer Bruch: Berbeda dengan para koboi yang biasa menangkap kuda dengan tali laso, sebagian penduduk di Merfelfer Bruch, wilayah barat Jerman, menangkap kuda liar tanpa alat apapun. Atraksi menegangkan itu dilakukan setiap tahun di cagar alam milik Count Alfred Von Coy, warga Jerman yang menyerahkan lahannya bagi pelestarian kuda liar pada 1845.
Tak mudah menyeret kuda liar tanpa menggunakan alat. Selain keahlian, nyali tinggi juga diperlukan. Para koboi harus tangguh dan lincah agar kuda bisa ditangkap. Tentu saja para koboi tadi berhasil, keahlian ini sudah mereka pelajari dari sang ayah atau kakek sejak kecil. Keterampilan itu sudah diwariskan turun-temurun sejak 1907.
Pada acara yang seharusnya dilakukan setiap Sabtu akhir tahun itu, sekitar 300 kuda liar dikumpulkan dalam satu kandang besar. Tujuannya adalah untuk memisahkan kuda-kuda yang masih berumur setahun dari induknya. Hal itu dilakukan untuk menghindari perkawinan satu keturunan. Kuda-kuda cilik tadi bakal dijual dengan harga berkisar antara Rp 200-500 Euro.(MTA/Uri)
Tak mudah menyeret kuda liar tanpa menggunakan alat. Selain keahlian, nyali tinggi juga diperlukan. Para koboi harus tangguh dan lincah agar kuda bisa ditangkap. Tentu saja para koboi tadi berhasil, keahlian ini sudah mereka pelajari dari sang ayah atau kakek sejak kecil. Keterampilan itu sudah diwariskan turun-temurun sejak 1907.
Pada acara yang seharusnya dilakukan setiap Sabtu akhir tahun itu, sekitar 300 kuda liar dikumpulkan dalam satu kandang besar. Tujuannya adalah untuk memisahkan kuda-kuda yang masih berumur setahun dari induknya. Hal itu dilakukan untuk menghindari perkawinan satu keturunan. Kuda-kuda cilik tadi bakal dijual dengan harga berkisar antara Rp 200-500 Euro.(MTA/Uri)