Liputan6.com, Jakarta: Blues adalah manifesto ungkapan suara hati. Ketika hak asasi tertindas, saat kemerdekaan terenggut, manakala demokrasi ternoda, maka Blues menjadi bahasa yang menetes tanpa henti untuk memecahkan karang pandir dan kelu.
Slogan itu terdengar dalam sebuah acara Blues For Freedom yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Foto Jurnalistik Antara dan Djakarta Artmosphere yang merupakan acara paralel Jakarta Biennale 2011 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (29/7) malam.
Kepada Liputan6.com, Renjani Damais, Ketua Pelaksana kegiatan mengatakan, Blues juga tidak hanya soal musik. Tapi, ini adalah bentuk perlawanan terhadap penindasan atas kemerdekaan. Lewat musik blues diharapkan bisa menjadi sebuah gerakan people power menuju kemerdekaan sejati.
"Kebebasan di Indonesia saat ini sangat terancam jadi kita berusaha mengkampanyekan kemerdekaan terhadap masyarakat lewat jalur kreatif, yaitu musik. Musisi-musisi yang setuju dengan isu itu ikut dalam acara ini," kata Renjani. (ARI)
Slogan itu terdengar dalam sebuah acara Blues For Freedom yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Foto Jurnalistik Antara dan Djakarta Artmosphere yang merupakan acara paralel Jakarta Biennale 2011 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (29/7) malam.
Kepada Liputan6.com, Renjani Damais, Ketua Pelaksana kegiatan mengatakan, Blues juga tidak hanya soal musik. Tapi, ini adalah bentuk perlawanan terhadap penindasan atas kemerdekaan. Lewat musik blues diharapkan bisa menjadi sebuah gerakan people power menuju kemerdekaan sejati.
"Kebebasan di Indonesia saat ini sangat terancam jadi kita berusaha mengkampanyekan kemerdekaan terhadap masyarakat lewat jalur kreatif, yaitu musik. Musisi-musisi yang setuju dengan isu itu ikut dalam acara ini," kata Renjani. (ARI)