Liputan6.com, Jakarta: Negara Republik Demokratik Timor Leste memang telah resmi berdiri, 20 Mei silam [baca: Republik Demokrat Timor Leste Diproklamasikan]. Namun, sejarah tetap mencatat bahwa bekas koloni Portugal itu pernah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya provinsi ke-27. Karena itu pula provinsi Timor Timur sempat mempunyai anjungan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Bahkan, meski proklamasi Timor Leste telah dikumandangkan, pengelola TMII tetap mempertahankan keberadaan anjungan itu. Demikian pemantauan SCTV di TMII, Jaktim, baru-baru ini.
Di anjungan Timtim, rumah adat Los Palos atau biasa disebut Uma Lautem masih berdiri kokoh sebagai bangunan utama, diapit dua rumah adat daerah Atsabe yang beratap setengah lingkaran dan biasa disebut Uma Laku. Ketiga rumah tersebut tetap terpelihara dengan baik, termasuk koleksi anjungan, seperti pakaian adat dan busana pengantin dari sejumlah daerah di Timtim. Di antaranya model pakaian khas daerah Ainaro, Ermera, Suai, Oekusi, dan Los Palos. Yang membedakan dari masing-masing pakaian adalah warna tais atau kain khas Timtim yang mencolok. Selain itu, rumah adat tersebut juga memajang peralatan makan, seperangkat alat musik, ukiran, dan patung. Pengelola juga menyediakan hasil perkebunan kopi dari daerah Ermera yang sangat terkenal.(SID/Esther Mulyanie dan Anto Susanto)
Di anjungan Timtim, rumah adat Los Palos atau biasa disebut Uma Lautem masih berdiri kokoh sebagai bangunan utama, diapit dua rumah adat daerah Atsabe yang beratap setengah lingkaran dan biasa disebut Uma Laku. Ketiga rumah tersebut tetap terpelihara dengan baik, termasuk koleksi anjungan, seperti pakaian adat dan busana pengantin dari sejumlah daerah di Timtim. Di antaranya model pakaian khas daerah Ainaro, Ermera, Suai, Oekusi, dan Los Palos. Yang membedakan dari masing-masing pakaian adalah warna tais atau kain khas Timtim yang mencolok. Selain itu, rumah adat tersebut juga memajang peralatan makan, seperangkat alat musik, ukiran, dan patung. Pengelola juga menyediakan hasil perkebunan kopi dari daerah Ermera yang sangat terkenal.(SID/Esther Mulyanie dan Anto Susanto)