Pesantren dan Kekerasan yang Berbuntut Kematian Santri

Acap kali terjadi perkelahian antarsantri di pondok pesantren yang berakhir kematian. Terakhir perkelahian di Ponpes Ashidiqiyah II, Tangerang, Banten, yang mengakibatkan seorang santri tewas.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Mei 2002, 14:30 WIB
Liputan6.com, Tangerang: Kekerasan memang tak mengenal tempat. Sebuah pondok pesantren yang jelas-jelas sebagai tempat menggojlok mental dan spiritual santri pun tak luput olehnya. Sudah beberapa kali kasus perkelahian antarsantri menyeruak ke permukaan. Tak jarang insiden itu mengakibatkan korban tewas. Kasus terakhir adalah yang terjadi di Pondok Pesantren Ashidiqiyah II Tangerang, Banten, pekan silam. Rizki Hamdani, pelajar kelas tiga Sekolah Menengah Pertama Ponpes pimpinan Nur Iskandar Muhammad S.Q. itu tewas ditusuk Chaidir, rekan sesama santri [baca: Santri Pesantren Tewas Dibunuh Temannya].

Insiden ini bermula saat Rizki (16) dan Chaidir (15) saling mengejek ketika mengambil air wudhu menjelang salat Isya di pesantren. Tersangka mengaku jengkel terhadap korban yang sering mengejeknya. Akhirnya, Chaidir menikam Rizki dengan pecahan kaca nako hingga tewas. Beberapa jam kemudian, tersangka ditangkap di rumah orangtuanya di Jalan Sukabakti, Ciledug, Tangerang.

Kepada polisi, Chaidir mengaku tak berniat membunuh korban. Pengakuan ini dibenarkan dua santri yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Menurut mereka, insiden bermula hanya canda biasa. Kedua saksi juga mengaku tak mengira percandaan itu berbuntut kematian Rizki.

Saat SCTV mengunjungi lokasi kejadian, suasana Ponpes Ashidiqiyah II persis sama dengan pesantren-pesantren lainnya di Pulau Jawa: penuh canda dan akrab satu sama lain. Tak heran, insiden 14 Mei silam itu mengagetkan banyak pihak. Menurut Kepala Pengasuh Ponpes Darunnajah Ustadz Mardhani Zuhri, sebenarnya perkelahian antarsantri sudah sering terjadi. Soalnya, para santri rata-rata memang berusia remaja dan memiliki emosi yang tak stabil. Nah, perkelahian antarsantri bisa berbuntut panjang dan rawan--berakibat kematian--bila ponpes tak didukung jumlah pembina yang banyak dan memadai.

Mardhani menambahkan, mengurus santri yang banyak dengan karakter berbeda-beda memang bukan perkara mudah. Itulah sebabnya, para pengurus ponpes harus bersedia mengawasi secara ketat hubungan antarsantri. Bila mereka melihat gejala-gejala sebuah perseteruan, ada baiknya yang bersangkutan langsung dipanggil dan didamaikan sedini mungkin.

Awal Mei silam, Eko Poernomo, santri Ponpes Sabilurrosyidin, Gayungan, Surabaya, Jawa Timur, juga tewas dikeroyok sesama santri. Korban dituding sering mencuri barang milik santri lainnya. Kematian Eko baru terungkap setelah dua hari. Pasalnya, pihak ponpes sengaja menutup-nutupi kematian santrinya [baca: Seorang Santri Dikeroyok Hingga Tewas].(SID/Gaby Getal dan Zakaria)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya