KOLOM: Menanti Peluit Akhir Bagi Wenger

Apakah ini menjadi musim terakhir bagi Arsene Wenger?

oleh Liputan6.comDiterbitkan 09 Maret 2018, 08:00 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Akhir pekan lalu, berita duka datang dari Italia. Davide Astori, kapten Fiorentina, meninggal dunia dalam tidurnya saat berada di sebuah hotel di Udine ketika I Viola hendak menjalani laga tandang melawan Udinese.

Semua orang terhenyak, tercenung, tertegun, dan tak bisa memercayai berita itu. Namun, begitulah adanya. Maut memang bisa datang kapan saja sesuai skenario yang sudah disiapkan Tuhan untuk setiap makhluknya.

Kematian itu menjadi peluit akhir bagi Davide Astori. Sebuah peluit panjang yang menyudahi kiprahnya, bukan hanya di sepak bola, melainkan juga di alam fana. Peluit panjang yang mematahkan banyak hati karena kehilangan sosok istimewa. Bahkan, Gabriel Omar Batistuta menyandingkan dia dengan Giancarlo Antognoni sebagai kapten sejati Fiorentina.

Peluit akhir yang diwarnai drama bukan semata milik Astori. Tottenham Hotspur pun mengalami "sudden death" saat menjamu Juventus di leg II babak 16-besar Liga Champions, Kamis (8/3/2018) dinihari WIB. Sempat berada di atas angin berkat gol Son Heung-min, asa ke perempat final sirna gara-gara gol Gonzalo Higuain dan Paulo Dybala yang hanya berselang 2 menit 49 detik.

Semua penggawa Tottenham sungguh tak bisa begitu saja mencerna kegagalan di Stadion Wembley tersebut. Manajer Mauricio Pochettino tak ragu menyebut hasil akhir sungguh tak adil bagi timnya yang bermain lebih baik dalam dua laga 16-besar.

Gelandang Arsenal, Jack Wilshere, mengkritisi sejumlah keputusan wasit Craig Pawson yang kontroversial dan dianggap menjadi penyebab kekalahan timnya dari Manchester City di final Piala Liga Inggris. (AFP/Glyn Kirk).

Tottenham patut meratapi hal itu. Bukan hanya di babak 16-besar, saat fase grup pun mereka tampil luar biasa. Mereka mampu menjadi pemuncak grup yang dihuni sang juara bertahan, Real Madrid. Bahkan, secara meyakinkan, mereka menekuk Los Blancos 3-1 di Wembley. Dari situ, tak sedikit orang yang memprediksi Spurs akan jadi kuda hitam di Liga Champions musim ini.

Lanjut Baca:

Meskipun demikian, peluit akhir bagi Tottenhan itu tidak terlalu merisaukan Pochettino. Bagaimanapun, posisinya masihlah aman. Beda halnya dengan Unai Emery di Paris Saint-Germain (PSG). Usai timnya disingkirkan Madrid, dia jadi kambing hitam. Gelandang Julian Draxler tak ragu mengkritik sang pelatih. Dia menyebut putusan yang dibuat Emery dalam pertandingan itu sungguh aneh.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya