Liputan6.com, Purworejo: Presiden Abdurahman Wahid dan Ibu Shinta Nuriyah, Senin (6/11), menyempatkan diri untuk mengunjungi korban tanah longsor di Purworejo, Jawa Tengah. Dalam kunjungannya presiden sempat mengadakan dialog dengan korban yang selamat. Kesempatan bertemu presiden itu, digunakan oleh korban untuk menyampaikan keluhan dan permohonan agar bantuan segera datang.
Sementara, upaya pencarian korban bencana tanah longsor di terus dilakukan oleh Tim Search and Rescue dan tim dari Batalion 412 Komando Strategis Angkatan Darat. Namun usaha mereka untuk menukan korban belum optimal. Pasalnya, alat yang digunakan untuk pencarian itu sangat sederhana dan terkesan seadanya. Bahkan, warga juga dilibatkan untuk bekerja bakti guna mencari para korban.
Minimnya peralatan itu menyebabkan sembilan korban belum dapat ditemukan. Mereka itu masing-masing, lima orang dari Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelen, tiga orang dari Desa Pelipir, dan satu orang dari Desa Pacekelan.
Dari pemantauan SCTV, di Desa Pacekelan ada 13 orang yang tewas, 16 rumah dan dua Mushola hancur. Sedang di Desa Pelipir, terdata tujuh orang tewas. Tiga di antaranya belum diketahui, empat orang luka, dan enam rumah rusak berat.
Sedangkan, di Desa Somogari, Kecamatan Kaligising, tiga orang tewas dan 15 rumah hancur. Di Desa Kaligono ada dua orang yang tewas dan dua rumah rusak. Sementara di Desa Hulasobo satu orang ditemukan tewas dan lima rumah rusak berat. Desa Jatirejo sedikit lebih baik. Kendati tak ada korban jiwa, lima rumah di desa tersebut terlihat hancur lebur.
Di Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelan, terdata 23 orang tewas, sembilan orang luka parah, dan 14 rumah rusak berat. Untuk Desa Semagung ada dua orang tewas, satu orang luka, dan tiga rumah rusak berat. Di Desa Semana tercatat delapan rumah rusak parah.
Di Desa Soko, enam rumah hancur dan di Desa Clatar ada tiga rumah yang rusak. Sementara itu, ada lima rumah hancur di Desa Kalirejo. Untuk Desa Sokoagung, empat rumah dan jalan desa tertimbun tanah. Kendati demikian, tim gabungan berhasil menemukan satu orang korban yang diidentifikasikan bernama Soyem, warga Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelan.
Saat ini, untuk membantu korban yang selamat, Pemerintah Daerah Purworejo telah membuat Pos Komando di tiap desa. Di samping itu, Pemda juga memberikan uang duka sebesar Rp 500 ribu kepada keluarga korban. Pemda juga berjanji akan menanggung biaya perawatan rumah sakit.(ICH/Wiwiek Susilo dan Mardianto)
Sementara, upaya pencarian korban bencana tanah longsor di terus dilakukan oleh Tim Search and Rescue dan tim dari Batalion 412 Komando Strategis Angkatan Darat. Namun usaha mereka untuk menukan korban belum optimal. Pasalnya, alat yang digunakan untuk pencarian itu sangat sederhana dan terkesan seadanya. Bahkan, warga juga dilibatkan untuk bekerja bakti guna mencari para korban.
Minimnya peralatan itu menyebabkan sembilan korban belum dapat ditemukan. Mereka itu masing-masing, lima orang dari Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelen, tiga orang dari Desa Pelipir, dan satu orang dari Desa Pacekelan.
Dari pemantauan SCTV, di Desa Pacekelan ada 13 orang yang tewas, 16 rumah dan dua Mushola hancur. Sedang di Desa Pelipir, terdata tujuh orang tewas. Tiga di antaranya belum diketahui, empat orang luka, dan enam rumah rusak berat.
Sedangkan, di Desa Somogari, Kecamatan Kaligising, tiga orang tewas dan 15 rumah hancur. Di Desa Kaligono ada dua orang yang tewas dan dua rumah rusak. Sementara di Desa Hulasobo satu orang ditemukan tewas dan lima rumah rusak berat. Desa Jatirejo sedikit lebih baik. Kendati tak ada korban jiwa, lima rumah di desa tersebut terlihat hancur lebur.
Di Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelan, terdata 23 orang tewas, sembilan orang luka parah, dan 14 rumah rusak berat. Untuk Desa Semagung ada dua orang tewas, satu orang luka, dan tiga rumah rusak berat. Di Desa Semana tercatat delapan rumah rusak parah.
Di Desa Soko, enam rumah hancur dan di Desa Clatar ada tiga rumah yang rusak. Sementara itu, ada lima rumah hancur di Desa Kalirejo. Untuk Desa Sokoagung, empat rumah dan jalan desa tertimbun tanah. Kendati demikian, tim gabungan berhasil menemukan satu orang korban yang diidentifikasikan bernama Soyem, warga Desa Kemanukan, Kecamatan Bagelan.
Saat ini, untuk membantu korban yang selamat, Pemerintah Daerah Purworejo telah membuat Pos Komando di tiap desa. Di samping itu, Pemda juga memberikan uang duka sebesar Rp 500 ribu kepada keluarga korban. Pemda juga berjanji akan menanggung biaya perawatan rumah sakit.(ICH/Wiwiek Susilo dan Mardianto)