Liputan6.com, Sleman: "Om Santi, Santi, Santi, Om ..." menggema dari pelataran Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada yang tak biasa terdengar di candi peninggalan agama Hindu ini, awal April silam. Apalagi, saat itu malam hari--candi dibuka untuk umum mulai pukul 08.30-17.00 WIB. Gaung nada penuh khidmat tadi adalah suara sejumlah umat Hindu di Jateng yang tengah berkumpul di Candi Syiwa (nama lain Prambanan) untuk melaksanakan Melasti. Ritual ini bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan candi sebagai sarana prosesi upacara Wisuda Bumi atau Tawur Kesanga, esok hari.
Malam bertambah dingin, namun mereka justru semakin khusyuk berdoa. Untunglah, meski dingin, langit tetap cerah. Hal ini dipercaya sebagai tanda bahwa Sang Hyang Widhi Wasa merestui prosesi tersebut. Semua air suci dan aneka sesajen yang dibawa peserta sembahyang segera disiapkan.
Peserta prosesi sebagian besar berasal dari Boyolali, Klaten, Yogyakarta, dan Semarang, Jateng. Sebelum datang ke Prambanan, mereka terlebih dahulu menggelar prosesi pendahuluan di sumber air di daerah masing-masing. Umat Hindu di Boyolali, misalnya. Mereka mengambil tirta suci dari mata air di Umbul Sungsang, Kecamatan Banyudono, yang dipercaya sebagai tempat Pakubuwono IX bertapa. Namun, tak sembarang hari bisa digunakan buat mengambil air.
Umat Hindu Boyolali memilih malam Selasa Kliwon sebagai waktu yang tepat untuk mengambil air suci. Sebab, malam itu dipercaya sebagai malam Anggora Kasih. Mereka pun menciduk air suci lewat prosesi Nunas Tirta yang dipimpin seorang Pinandite. Sang Pinandite pun memimpin sembahyang sebagai permintaan izin kepada penguasa Sumber Air Umbul Sungsang. Kemudian, upacara dilanjutkan dengan serangkaian prosesi lain melalui perantara Pemangku Pura.
Di Klaten, umat Hindu setempat sengaja menggelar prosesi serupa pada tengah malam. Mereka memulai upacara di Pura Buana Pluneng. Dari situ, umat berjalan beriringan menuju Sumber Air Geneng di Desa Randul. Begitu tiba di lokasi, Pemangku Pura memimpin sembahyang: meminta restu Hyang Baruna, sang penguasa Sumber Air Geneng. Selanjutnya, seorang umat mesti menceburkan diri mengambil air suci yang telah diberi restu.
Sementara umat Hindu di Semarang tak memilih hari gelap untuk mengambil air suci. Namun ketika sang mentari menyongsong petang, barulah umat Hindu di sana melaksanakan prosesi Nunas Tirta dari Sumber Air Rawa Pening. Berbekal aneka dupa dan sesajen sebagai persembahan, mereka berperahu menuju pusat sumber air. Di tengah rawa, semua sesajen dilempar sehingga menyebabkan air yang semula tenang langsung berbuih bak mendidih. Ini diyakini peserta prosesi sebagai restu dari si penguasa Rawa Pening buat mengambil air suci.
Nah, air suci dari ketiga sumber air itulah yang dibawa umat Hindu ke Candi Prambanan. Ketiga air suci tersebut akan disatukan dengan empat tirta suci lainnya dalam ritual pemberkatan di Candi Prambanan, satu hari sebelum Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1924.
Menjelang pagi hari di Prambanan, semua tirta suci dan aneka sesajen yang telah di-Melasti-kan harus dibawa menuju Candi Ratu Boko. Letaknya sekitar dua kilometer sebelah selatan Prambanan. Situs yang pertama kali ditemukan seorang Belanda bernama van Boecholtz pada 1790 ini dipilih lantaran menjadi peninggalan Hindu tertua di Jawa.
Prosesi di candi yang dibangun pada abad VIII Masehi itu cuma berlangsung beberapa menit dengan dipimpin seorang Pandite. Sesudahnya, semua air suci dan sesajen dibawa kembali ke Candi Rorojonggrang--nama lain Prambanan, sesuai legenda masyarakat Jawa. Begitu tiba di Prambanan, umat Hindu langsung berjalan beriringan mengelilingi kompleks candi dengan dikawal prajurit Kasultanan Ngayogyakarta.
Kini, tujuh tirta suci dan aneka sesajen telah siap di pelataran candi, tepatnya di depan panggung persembahyangan. Pemberkatan pun dimulai lewat bunyi lonceng Pandita Resi Gunawan dan Sri Begawan Istri Agung Ratu Gayatri. Pemberkatan tirta suci adalah puncak prosesi Wisuda Bumi, sebuah prosesi akbar yang dipercaya sebagai doa keselamatan bagi alam beserta isinya.
Namun, upacara tak selesai di sini. Masih ada prosesi pemercikan air suci kepada ogoh-ogoh--patung raksasa perlambang angkara murka. Tujuannya untuk mengusir segala perbuatan jahat dan menggantinya dengan kedamaian di muka bumi. Setelah itu, umat Hindu bersembahyang sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widi Wasa. Prosesi pun menuju tahap akhir. Ribuan umat Hindu memperebutkan berkah tirta suci dan sesajen yang telah diberkati pandita.
Bagi umat Hindu, upacara Tawur Kesanga atau Wisuda Bumi bermakna sangat suci: menjadikan alam bersih, selaras, dan seimbang serta mendekatkan umat manusia ke hadirat Hyang Widhi. Begitu sucinya prosesi Tawur Kesanga sehingga wajar kiranya bila umat Hindu mempersiapkan ritual tersebut secara khusus. Bahkan, aneka sesajen dan kembang serat janur juga mengisi di setiap rumah mereka. Aneka sesajen diyakini sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta. Isinya tak sekadar nasi beserta lauk, tapi juga jahe, garam, dan kembang sebagai wewangian. Ada juga golong atau nasi yang dibentuk menjadi bulatan serta budu atau nasi kerucut di antara sesajen tadi.
Nasi kerucut selalu berjumlah sebelas. Artinya eka dasarudra atau sebelas arah mata angin. Sementara golong terdiri dari empat dan delapan. Empat melambangkan arah mata angin utama: timur, selatan, barat, dan utara. Sedangkan delapan menjadi pelengkap arah mata angin: barat laut, barat daya, timur laut, dan tenggara. Sesajen yang telah siap akan diletakkan di ruang sembahyang.
Begitu semua siap--termasuk mengepulkan asap dupa di ruang sembahyang--umat Hindu pun memohon Waranugraha. Doa Waranugraha adalah permohonan keselamatan, kemudahan dalam usaha, dan karya untuk melaksanakan tugas dharma, termasuk Wisuda Bumi.
Seusai Waranugraha, sesajen disebarkan di lima tempat yang disebut ngejot. Yakni, tempat air, tempat beras, tempat memasak, ruang rumah yang disebut sanggar pawang, serta halaman rumah atau sanggar surya. Penempatan sesajen di lima tempat ini mengakhiri Waranugraha, sebagai sebuah harapan untuk keselamatan, kedamaian, dan ketenteraman abadi di muka bumi. Semoga.(SID/Tim Potret)
Malam bertambah dingin, namun mereka justru semakin khusyuk berdoa. Untunglah, meski dingin, langit tetap cerah. Hal ini dipercaya sebagai tanda bahwa Sang Hyang Widhi Wasa merestui prosesi tersebut. Semua air suci dan aneka sesajen yang dibawa peserta sembahyang segera disiapkan.
Peserta prosesi sebagian besar berasal dari Boyolali, Klaten, Yogyakarta, dan Semarang, Jateng. Sebelum datang ke Prambanan, mereka terlebih dahulu menggelar prosesi pendahuluan di sumber air di daerah masing-masing. Umat Hindu di Boyolali, misalnya. Mereka mengambil tirta suci dari mata air di Umbul Sungsang, Kecamatan Banyudono, yang dipercaya sebagai tempat Pakubuwono IX bertapa. Namun, tak sembarang hari bisa digunakan buat mengambil air.
Umat Hindu Boyolali memilih malam Selasa Kliwon sebagai waktu yang tepat untuk mengambil air suci. Sebab, malam itu dipercaya sebagai malam Anggora Kasih. Mereka pun menciduk air suci lewat prosesi Nunas Tirta yang dipimpin seorang Pinandite. Sang Pinandite pun memimpin sembahyang sebagai permintaan izin kepada penguasa Sumber Air Umbul Sungsang. Kemudian, upacara dilanjutkan dengan serangkaian prosesi lain melalui perantara Pemangku Pura.
Di Klaten, umat Hindu setempat sengaja menggelar prosesi serupa pada tengah malam. Mereka memulai upacara di Pura Buana Pluneng. Dari situ, umat berjalan beriringan menuju Sumber Air Geneng di Desa Randul. Begitu tiba di lokasi, Pemangku Pura memimpin sembahyang: meminta restu Hyang Baruna, sang penguasa Sumber Air Geneng. Selanjutnya, seorang umat mesti menceburkan diri mengambil air suci yang telah diberi restu.
Sementara umat Hindu di Semarang tak memilih hari gelap untuk mengambil air suci. Namun ketika sang mentari menyongsong petang, barulah umat Hindu di sana melaksanakan prosesi Nunas Tirta dari Sumber Air Rawa Pening. Berbekal aneka dupa dan sesajen sebagai persembahan, mereka berperahu menuju pusat sumber air. Di tengah rawa, semua sesajen dilempar sehingga menyebabkan air yang semula tenang langsung berbuih bak mendidih. Ini diyakini peserta prosesi sebagai restu dari si penguasa Rawa Pening buat mengambil air suci.
Nah, air suci dari ketiga sumber air itulah yang dibawa umat Hindu ke Candi Prambanan. Ketiga air suci tersebut akan disatukan dengan empat tirta suci lainnya dalam ritual pemberkatan di Candi Prambanan, satu hari sebelum Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka 1924.
Menjelang pagi hari di Prambanan, semua tirta suci dan aneka sesajen yang telah di-Melasti-kan harus dibawa menuju Candi Ratu Boko. Letaknya sekitar dua kilometer sebelah selatan Prambanan. Situs yang pertama kali ditemukan seorang Belanda bernama van Boecholtz pada 1790 ini dipilih lantaran menjadi peninggalan Hindu tertua di Jawa.
Prosesi di candi yang dibangun pada abad VIII Masehi itu cuma berlangsung beberapa menit dengan dipimpin seorang Pandite. Sesudahnya, semua air suci dan sesajen dibawa kembali ke Candi Rorojonggrang--nama lain Prambanan, sesuai legenda masyarakat Jawa. Begitu tiba di Prambanan, umat Hindu langsung berjalan beriringan mengelilingi kompleks candi dengan dikawal prajurit Kasultanan Ngayogyakarta.
Kini, tujuh tirta suci dan aneka sesajen telah siap di pelataran candi, tepatnya di depan panggung persembahyangan. Pemberkatan pun dimulai lewat bunyi lonceng Pandita Resi Gunawan dan Sri Begawan Istri Agung Ratu Gayatri. Pemberkatan tirta suci adalah puncak prosesi Wisuda Bumi, sebuah prosesi akbar yang dipercaya sebagai doa keselamatan bagi alam beserta isinya.
Namun, upacara tak selesai di sini. Masih ada prosesi pemercikan air suci kepada ogoh-ogoh--patung raksasa perlambang angkara murka. Tujuannya untuk mengusir segala perbuatan jahat dan menggantinya dengan kedamaian di muka bumi. Setelah itu, umat Hindu bersembahyang sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widi Wasa. Prosesi pun menuju tahap akhir. Ribuan umat Hindu memperebutkan berkah tirta suci dan sesajen yang telah diberkati pandita.
Bagi umat Hindu, upacara Tawur Kesanga atau Wisuda Bumi bermakna sangat suci: menjadikan alam bersih, selaras, dan seimbang serta mendekatkan umat manusia ke hadirat Hyang Widhi. Begitu sucinya prosesi Tawur Kesanga sehingga wajar kiranya bila umat Hindu mempersiapkan ritual tersebut secara khusus. Bahkan, aneka sesajen dan kembang serat janur juga mengisi di setiap rumah mereka. Aneka sesajen diyakini sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta. Isinya tak sekadar nasi beserta lauk, tapi juga jahe, garam, dan kembang sebagai wewangian. Ada juga golong atau nasi yang dibentuk menjadi bulatan serta budu atau nasi kerucut di antara sesajen tadi.
Nasi kerucut selalu berjumlah sebelas. Artinya eka dasarudra atau sebelas arah mata angin. Sementara golong terdiri dari empat dan delapan. Empat melambangkan arah mata angin utama: timur, selatan, barat, dan utara. Sedangkan delapan menjadi pelengkap arah mata angin: barat laut, barat daya, timur laut, dan tenggara. Sesajen yang telah siap akan diletakkan di ruang sembahyang.
Begitu semua siap--termasuk mengepulkan asap dupa di ruang sembahyang--umat Hindu pun memohon Waranugraha. Doa Waranugraha adalah permohonan keselamatan, kemudahan dalam usaha, dan karya untuk melaksanakan tugas dharma, termasuk Wisuda Bumi.
Seusai Waranugraha, sesajen disebarkan di lima tempat yang disebut ngejot. Yakni, tempat air, tempat beras, tempat memasak, ruang rumah yang disebut sanggar pawang, serta halaman rumah atau sanggar surya. Penempatan sesajen di lima tempat ini mengakhiri Waranugraha, sebagai sebuah harapan untuk keselamatan, kedamaian, dan ketenteraman abadi di muka bumi. Semoga.(SID/Tim Potret)