Liputan6.com, Cilacap: Setelah korban berjatuhan, masyarakat baru tersadar bahwa alam yang tak ramah karena ulah mereka sendiri. Buktinya, longsor dan banjir di Cilacap yang menewaskan 33 orang beberapa hari silam, diduga akibat penggundulan hutan pinus yang tersebar di berbagai wilayah Cilacap.
Penggundulan hutan pinus terjadi di kawasan Jeruk Legi yang menjadi daerah resapan air seluas satu hektare. Celakanya, penebangan tidak diimbangi dengan penanaman pohon pengganti. Meski masih kesimpulan sementara, dugaan ini dibenarkan masyarakat sekitar. Pasalnya, korban banjir dan longsor yang terparah berada di kawasan penebangan.
Apalagi, sebagian besar hutan yang gundul tersebut berada di Cilacap Utara dan wilayah Cilacap Atas. Akibatnya, kalau hujan turun, air mengalir dengan deras. Dampaknya, Kecamatan Sidareja, Majenang, Wanareja dan Kecamatan Cimanggu menerima getahnya. Kondisi ini diperparah dengan belum optimalnya proyek Citanduy yang mengeruk sungai di wilayah timur Cilacap. Akibatnya, air menggenang dan meluap.
Sementara itu, hingga kini, evakuasi korban masih berlangsung. Enam dari sembilan korban di Desa Cibalung Kecamatan Cimanggu masih tertimbun tanah. Pencarian korban dilakukan dengan peralatan yang sangat sederhana alias peralatan seadanya, termasuk tangan kosong.(YYT/Yudi Sutomo dan Arief Arya)
Penggundulan hutan pinus terjadi di kawasan Jeruk Legi yang menjadi daerah resapan air seluas satu hektare. Celakanya, penebangan tidak diimbangi dengan penanaman pohon pengganti. Meski masih kesimpulan sementara, dugaan ini dibenarkan masyarakat sekitar. Pasalnya, korban banjir dan longsor yang terparah berada di kawasan penebangan.
Apalagi, sebagian besar hutan yang gundul tersebut berada di Cilacap Utara dan wilayah Cilacap Atas. Akibatnya, kalau hujan turun, air mengalir dengan deras. Dampaknya, Kecamatan Sidareja, Majenang, Wanareja dan Kecamatan Cimanggu menerima getahnya. Kondisi ini diperparah dengan belum optimalnya proyek Citanduy yang mengeruk sungai di wilayah timur Cilacap. Akibatnya, air menggenang dan meluap.
Sementara itu, hingga kini, evakuasi korban masih berlangsung. Enam dari sembilan korban di Desa Cibalung Kecamatan Cimanggu masih tertimbun tanah. Pencarian korban dilakukan dengan peralatan yang sangat sederhana alias peralatan seadanya, termasuk tangan kosong.(YYT/Yudi Sutomo dan Arief Arya)