LEGENDA: Roberto Baggio, Pendosa yang Dicintai Publik Italia

Roberto Baggio adalah salah satu pesepak bola terbaik yang pernah dimiliki Italia.

oleh Bogi TriyadiDiterbitkan 09 Februari 2018, 08:10 WIB
Roberto Baggio tertunduk lesu setelah tendangan penaltinya melambung di atas mistar gawang Brasil pada final Piala Dunia 1994 di Stadion Rose Bowl, Amerika Serikat. Italia kalah 2-3. (OMAR TORRES / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Roberto Baggio hanya bisa tertunduk lesu di kotak penalti. Dia sepertinya tidak habis pikir mengapa tendangan penaltinya bisa melambung jauh di atas mistar gawang yang dikawal kiper Brasil, Claudio Taffarel.

Saat itu, 17 Juli 1994, Roberto Baggio menjadi penendang penalti terakhir Italia pada laga final melawan Brasil di Stadion Rose Bowl, Amerika Serikat. Kegagalan pemain bernomor 10 itu membuat Italia kalah 2-3 dari Brasil dalam adu penalti.

Baggio merupakan langganan eksekutor penalti untuk setiap tim yang dibelanya. Dia dikenal jarang meleset jika mengeksekusi tendangan 12 pas. Tak salah jika Baggio menjadi eksekutor penlati yang handal, termasuk untuk timnas Italia.

Tapi, nasib saat itu berkehendak lain. Bukan hanya Baggio yang gagal menjalankan tugasnya. Sang kapten Franco Baresi dan Daniele Massaro pun juga gagal. Namun, Pemain Terbaik FIFA 1993 itu merasa yang paling berdosa.

"Kegagalan penalti di Final Piala Dunia 1994 adalah momen terburuk saya. Jika saya bisa menghapus momen dalam karier saya, maka itu mungkin menjadi salah satu bagian yang akan saya hapus," kata Baggio dalam buku biografinya..

Roberto Baggio merasa dia pantas disalahkan dalam kegagalan Italia. Kegemilangan pemain yang dikenal dengan rambut kuncir kuda itu membawa Italia ke final dengan aksinya seolah terhapus begitu saja.

"Itu luka yang tidak pernah sembuh. Saya selalu bermimpi main di final Piala Dunia melawan Brasil. Tetapi kenyataannya, saya gagal mengeksekusi penalti," ucap Roberto Baggio.


Minta Dibunuh

Roberto Baggio mendorong kursi roda mantan rekan setimnya di Fiorentina, Stefano Borgonovo, yang menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) pada 8 Oktober 2008. (FILIPPO MONTEFORTE / AFP)

Roberto Baggio mengajukan satu permintaan yang sangat tidak masuk akal kepada ibunya. "Saya mengatakan kepada ibu saya untuk membunuh saya," kata Baggio kepada Corriere dello Sport, salah satu media olahraga di Italia.

Lanjut Baca:

Saat itu, Baggio sangat begitu rapuh. Selain itu, dia juga masih muda, 19 tahun. Sebanyak 220 jahitan ada di sekitar lututnya, yang didapatnya beberapa hari setelah pertandingan debutnya bersama Fiorentina pada September 1986. Cedera lutut itu membuat Baggio harus menepi hingga Liga Serie A Italia musim 1986/1987 berakhir. Wajar, jika dia saat itu nyaris putus asa. Namun, permintaannya tak dituruti sang ibu. Justru, sang ibu terus menyemangati putranya dalam masa rehabilitasi. Baggio ternyata sembuh lebih cepat. Dia kemudian bisa memperkuat Fiorentina menghadapi Napoli, kandidat kuat juara. Pada laga itu, Baggio tampil hebat, seolah seperti seorang pemain yang tak pernah mengalami cedera parah. Tak hanya itu, dia bahkan mencetak gol indah melalui tendangan bebas yang membuat laga berakhir 1-1. Gol penyeimbang itu sekaligus menyelamatkan Fiorentina dari degradasi ke Serie B. Fans Napoli boleh saja berpesta pada hari itu karena memenangi Scudetto Serie A. Akan tetapi, tanpa sadar mereka juga turut merayakan kehadiran Roberto Baggio, calon bintang baru sepak bola Italia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya