Umat Kristen AS Mulai Memahami Islam

Masyarakat Amerika Serikat menyadari bahwa umat Islam tak berada di balik Tragedi 11 September silam. Mereka tak lagi menyikapi soal Palestina, Arab, dan Islam secara miring.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 April 2002, 15:00 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Tragedi 11 September 2001 masih menyisakan kabut pekat dalam hubungan antara umat Islam dan Kristen. Sejumlah warga AS--khususnya yang beragama Kristen--menganggap bahwa tragedi yang memilukan itu didalangi oleh Osama bin Laden, tokoh beragama Islam yang berdiam di Afghanistan. Mereka juga menuding umat Islam dunia berada di belakang peristiwa tersebut.

Pandangan tadi rupanya tidak benar. Menurut tokoh muslim dari Universitas Georgetown in Washington Imam Yahya Hendi, sebagian besar masyarakat AS kini mulai mengerti bahwa Islam ternyata tak berada di balik aksi yang meruntuhkan Gedung World Trade Center itu. Sebab, tak mungkin ajaran Islam menghalalkan aksi teroris seperti yang terjadi di AS. Sekarang mereka percaya bahwa penghancuran Gedung World Trade Center di New York dilakukan oleh teroris yang tak beragama.

Pelan tapi pasti, citra Islam di AS mulai pulih. Tragedi WTC sedikit banyaknya mendorong warga AS ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang Islam. Palestina, atau Arab. Bahkan, Islam tak lagi dipandang dengan sikap miring. Mereka juga mulai bijak memandang konflik di Timur Tengah. "Karena itu semua memang bukan perang antaragama,& kata pria asal Yordania yang kerap mondar-mandir ke Kongres untuk menjelaskan posisi umat Islam dalam Tragedi WTC, ketika berdialog dengan reporter SCTV Ira Koesno, baru-baru. Berikut petikan lengkapnya:

Bagaimana keadaan umat muslim di AS pasca-Tragedi 11 September?
Mereka berada dalam keadaan baik. Awalnya, saya mengira tragedi yang menelan ribuan jiwa itu akan mengobarkan kemarahan, kebencian etnis, dan rasa frustrasi. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Gereja-gereja justru membuka pintu bagi muslim untuk datang dan berdoa. Bahkan, Presiden George Walker Bush mengatakan bahwa ini bukan perang melawan Islam, tetapi terorisme. Para anggota Kongres juga mengutarakan pandangan yang positif tentang Islam.

Jadi, Tragedi 11 September adalah anugerah yang terselubung bagi muslim di AS?
Saya yakin tragedi itu telah memaksa lebih banyak rakyat AS untuk menilai kembali pandangan mereka terhadap Islam dan umat muslim secara positif. Di lain pihak, tragedi itu juga memaksa umat muslim untuk menilai kembali agenda dan terminologi mereka, untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat AS. Apalagi muslim telah tiba di AS sejak 1312 atau 700 tahun lampau. Tapi, kami menenggelamkan diri dari politik publik AS. Baru sepuluh tahun belakangan kami memutuskan untuk lebih berperan aktif.

Apakah Anda sependapat bahwa hal itu terjadi karena media massa AS memperburuk keadaan yang ada?
Ya. Tapi tidak semua media massa di AS melakukan hal itu. Beberapa media justru menjadi fasilitator muslim untuk berbicara tentang Islam.

Apakah situasi kondusif ini masih berlangsung pasca-agresi Israel ke Palestina?
Ya. Situasi di Timur Tengah telah membuat rakyat AS lebih mengamati upaya yang sedang dan bisa dilakukan pemerintah mereka untuk mewujudkan perdamaian di sana.

Sebenarnya, bagaimana komunitas muslim AS melihat kebijakan yang diterapkan pemerintah Paman Sam terkait dengan perang antara Israel dan Palestina?
Sikap kami sebagai organisasi muslim sangat jelas. Kami merasa pemerintah AS belum melakukan upaya yang cukup untuk menciptakan perdamaian dan keadilan di Timur Tengah.

Tapi, itu hanya sebatas pandangan komunitas muslim AS. Bagaimana pandangan masyarakat AS secara umum mengenai perang Israel-Palestina?
Orang akan terkejut jika saya katakan bahwa bukan hanya muslim yang merasa bahwa pemerintah AS harus melakukan lebih banyak lagi dalam upaya menengahi konflik di Arab dan Israel. Semua umat Kristen dan Yahudi juga merasakan hal yang sama. Saya kenal seorang pendeta Yahudi di Los Angeles yang pekan lalu menulis sebuah artikel di Washington Post. Dalam tulisannya, ia mengecam kebijakan AS dalam konflik Timur Tengah dan mengajak komunitas Yahudi di AS untuk membela keadilan dan rakyat Palestina. Selain itu, umat Katolik, Protestan dan berbagai organisasi lain juga merasakan hal yang sama seperti muslim. Ada banyak pejabat negara yang mengetahui apa yang terjadi di Timur Tengah dan menyerukan perdamaian sana.

Tesis doktor Anda adalah tentang bagaimana umat Islam, Kristen, dan Yahudi dapat memperkokoh hubungan di antara mereka, dengan menggunakan nilai-nilai moral dan sosial masing-masing. Dalam hal ini, upaya apa yang bisa dilakukan rakyat AS untuk menyelesaikan masalah di Timur Tengah?
Konflik Timur Tengah adalah salah satu masalah dunia. Saya rasa kami harus sadar bahwa pemerintah AS seperti negara lain, memiliki banyak masalah lain yang harus diselesaikan. Tetapi saya percaya bahwa umat Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki nilai-nilai dan sejarah yang sama. Jika kita membaca Taurat, Gospel, Injil, dan Alquran dengan seksama maka kita akan menjadi saudara yang bersatu untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Kita tinggal di planet yang sama, karena itu kita harus bersikap selayaknya saudara.

Pasca tragedi itu, pemerintah AS menahan sejumlah umat muslim. Apakah ada penahanan lagi selama terjadinya konflik Timur Tengah?
Memang ada sekitar 1.100 orang yang ditangkap setelah tragedi 11 September. Sebagian di antara mereka telah dibebaskan. Tetapi saat ini, hal itu tidak terjadi lagi.(ULF)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya