KOLOM: Menunggu Deja Vu di Serie A

Mungkinkah kejadian musim-musim sebelumnya terulang di serie A?

oleh Liputan6.comDiterbitkan 05 Januari 2018, 08:00 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Menggantung harapan setinggi langit memang bukanlah dosa. Bahkan, sejak zaman dahulu, itulah yang dianjurkan para guru kepada murid-muridnya dan para orang tua kepada anak-anaknya. Harapan tinggi adalah sumber motivasi untuk menjalani hidup lebih baik dari hari ke hari.

Akan tetapi, harapan juga bisa menjadi bumerang. Seseorang yang selalu gagal mencapai harapannya pasti lambat laun disergap frustrasi. Apalagi bila itu terjadi saat orang-orang di sekelilingnya begitu yakin dia akan mampu mewujudkan harapan itu.

Di Serie A Italia, dalam beberapa tahun belakangan ini, tim yang selalu mengarungi musim dengan harapan tinggi adalah Napoli. Bukan hanya mereka, para pengamat dan pencinta sepak bola pun mengakui anak-anak asuh Maurizio Sarri punya potensi luar biasa untuk meraih trofi.

Secara khusus, Napoli adalah klub yang paling diharapkan untuk menyudahi kedigadayaan Juventus. Enam kali beruntun merebut Scudetto, I Bianconeri telah membuat Serie A membosankan. Pergantian pelatih dan perubahan materi pemain tak membuat mereka goyah. Mereka tetap digdaya, terdepan dalam perebutan takhta juara Italia.

Musim ini, harapan yang sama mengiringi langkah anak-anak asuh Sarri. Apalagi mereka sejak awal musim begitu tangguh, tak tersentuh kekalahan hingga Juventus bertamu pada giornata ke-15. Sebiji gol dari Gonzalo Higuain membuat mereka harus mengembalikan capolista kepada Internazionale.

Toh, asa tidak lantas memudar begitu saja. Kekalahan itu, juga hasil imbang dengan Fiorentina pada giornata berikutnya diyakini hanya fase buruk biasa. Ya, sebuah fase yang niscaya dialami setiap klub di mana pun. Fase ketika kemenangan begitu susah diraih.

Buktinya, Napoli bisa kembali jadi capolista hanya satu pekan jelang akhir putaran pertama. Lalu, gol tunggal Marek Hamsik ke gawang Crotone membuat Napoli sah menjadi campione d'inverno 'juara musim dingin'.

 

 

 


Bayang-Bayang 2016

Para pemain Napoli merayakan gol yang dicetak Marek Hamsik ke gawang Crotone pada laga Serie A Italia di Stadion Ezio Scida, Crotone, Jumat (29/12/2017). Crotone kalah 0-1 dari Napoli. (AFP/Carlo Hermann)

Lanjut Baca:

Meskipun demikian, Sarri dan anak-anak asuhnya tak lantas dilanda euforia. Kebahagiaan memang tak bisa disembunyikan, tapi optimisme meraih Scudetto tak lantas berlebihan. Mereka sadar, campione d'inverno hanyalah gelar khayal yang tak menjamin apa pun. Sarri juga tak terbuai hasil apik yang diraih Napoli sepanjang 2017. Perolehan 99 poin sepanjang tahun, menurut dia, bukan hal yang bisa dibanggakan begitu saja. "Kami meraih 99 poin, tapi dengan distribusi yang buruk," kata dia. Memang benar, sepanjang sejarah Serie A, lebih banyak campione d'inverno yang lantas merebut Scudetto. Jumlahnya mencapai 68,2 persen. Namun, bagi Napoli, gelar khayal itu tak jarang berujung kegagalan. Contohnya pada 2015-16. Bekal campione d'inverno tak cukup untuk menghentikan dominasi Juventus yang lantas meraih Scudetto kelima secara beruntun. Padahal, Juventus saat itu menjalani start sangat buruk. Pada giornata ke-8, I Bianconeri terperosok di tangga ke-14. Itu adalah posisi terendah mereka sejak awal musim 2010-11. Tepatnya pada giornata ke-2 saat mereka berada di posisi ke-15 classifica. Deja vu musim 2015-16 itulah yang kini membayang-bayangi I Partenopei. Ada banyak kemiripan perjalanan Napoli saat ini dengan musim itu. Mereka sama-sama menyalip Inter untuk merebut campione d'inverno, lalu mereka tersingkir di perempat final Coppa Italia di kandang sendiri dengan kebobolan dua gol. Dua musim lalu, Hamsik dkk. disikat Roma 0-2. Kini, Atalanta yang menyingkirkan mereka dengan skor 1-2. Hal yang juga sama, pemburu terdekat mereka adalah Juventus. Bahkan, jarak antara mereka dengan I Bianconeri kali ini lebih dekat. Dua musim lalu, Napoli unggul dua poin, kini hanya satu poin. Ibaratnya, kini pasukan Massimilano Allegri bernapas tepat di tengkuk Hamsik cs. Itu tentu bukan hal menyenangkan. Secara psikologis, siapa pun tak nyaman bila dibuntuti seorang jawara. Di Moto GP, seorang pebalap pasti grogi bila di belakangnya ada Valentino Rossi. Di Formula 1, hal yang sama berlaku saat pebalap tahu tengah dibuntuti Lewis Hamilton. Itulah yang kini dirasakan Napoli.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya