Coco: Manisnya Dongeng Kematian ala Pixar

Coco mengangkat sebuah tema yang terbilang jarang disentuh film animasi keluarga, yakni tentang kematian.

oleh Ratnaning AsihDiterbitkan 22 November 2017, 20:20 WIB
Coco mengangkat sebuah tema yang terbilang jarang disentuh film animasi keluarga, yakni tentang kematian. (Disney/Pixar)

Liputan6.com, Jakarta Mengangkat film animasi untuk keluarga yang sebenarnya memiliki tema berat, tampaknya sudah bukan hal yang baru untuk Pixar. Setelah Inside Out yang berbicara tentang persoalan mental dan psikologis, kini yang terbaru adalah Coco, yang berbicara tentang kematian.

Dongeng kematian ala Pixar ini, tak diceritakan lewat visualisasi kelam ala film-film Tim Burton. Sebaliknya, hal ini disampaikan lewat warna-warni ceria hidup Miguel (Anthony Gonzalez), seorang bocah di sebuah kota kecil, yang bercita-cita sebagai musisi.

Cuplikan film Coco (Disney/Pixar)

Masalahnya, ia datang dari keluarga pembuat sepatu yang membenci segala hal yang berhubungan dengan musik. Sang kakek buyut—yang telah dibuang dari silsilah keluarga—adalah seorang musisi yang meninggalkan sanak familinya demi menjadi seorang musisi terkenal.

Tapi Miguel tak menyerah. Berpegang pada ucapan terkenal idolanya, musisi legendaris Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt) untuk meraih impian, Miguel nekat mengikuti sebuah perlombaan menyanyi di alun-alun kota. Ajang ini, diselenggarakan tepat pada Dia de los Muertos, Festival Kematian Meksiko, di mana roh para leluhur mengunjungi keluarga yang masih mengingat mereka.

Masalahnya, Miguel tak punya alat musik untuk mengikuti perlombaan ini. Tak habis akal, ia pun menyelinap ke makam Ernesto de la Cruz, untuk meminjam gitar milik sang musisi yang digantung di tempat ini.

Cuplikan film Coco (Disney/Pixar)

Namun setelah gitar tersebut berhasil jatuh ke tangannya, sebuah hal tak terduga terjadi. Miguel tak sengaja menyeberang ke dunia orang mati. Celakanya, ia hanya punya waktu sebelum Festival Kematian berakhir, untuk kembali ke dunia. Bila tidak, ia tak akan pernah kembali ke keluarganya.

Petualangan di dunia orang mati, ternyata membuka satu rahasia besar di keluarga Miguel.


Memancing Tawa dan Tangis

Salah satu kekuatan utama Coco, adalah jalan ceritanya. Secara garis besar, film ini membedah hal-hal yang dekat dengan penonton: yakni keluarga dan kematian.

Soal keluarga, mungkin sudah bolak-balik diangkat dalam film, termasuk film animasi. Soal yang jarang disentuh, adalah soal kematian. Dan sutradara sekaligus penulis cerita film ini, Lee Unkrich—yang sebelumnya menyutradarai Toy Story 3 dan Finding Nemo—melakukannya dengan cara yang manis, bahkan puitis.

Lanjut Baca:

Film ini bahkan menyentuh kutipan populer mengenai manusia yang sejatinya mengalami dua kali kematian: yakni saat ruh terlepas dari raganya dan saat ia benar-benar dilupakan di dunia. Adegan di pengujung film antara Miguel dan Mama Coco, menjadi klimaks yang menyimpulkan secara baik hal ini, sekaligus membetot emosi penonton. Jangan khawatir, Coco tak hanya berisi tentang hal-hal yang membuat tangis. Film ini juga memiliki kadar humor yang terbilang tinggi. Apalagi karakter-karakter yang ada di film ini terbilang menarik, seperti Abuelita yang galak atau Hector yang ceroboh. Soal plot, film ini juga memiliki banyak twist yang tak terduga. Saat penonton mulai menebak ke mana arah kisah ini, alur langsung berbelok ke arah yang berbeda.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya