Menguak Tabir Sang Ratu di Malam Sura

Prosesi ritual malam 1 Sura menjadi suatu keyakinan akan penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Diakui atau tidak, kisah Ratu Kidul telah menjaga wibawa dan kharisma Keraton Mataram.

oleh Liputan6Diterbitkan 31 Maret 2002, 14:53 WIB
Liputan6.com, Yogyakarta: Hari menjelang malam. Sinar matahari pun perlahan menghilang di ufuk barat. Namun, ribuan orang malah memadati sepanjang Pantai Parangkusumo atau Parangtritis di selatan Kota Yogyakarta. Konon, tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi pertemuan Panembahan Senopati--pendiri Kerajaan Mataram--dan Kanjeng Ratu Kidul pada 1575. Di Parangtritis itulah, beberapa hari silam, sejumlah kelompok aliran kebatinan mempersiapkan prosesi ritual. Menurut penanggalan Jawa, hari tersebut adalah hari terakhir di Tahun 1934 Saka yang berarti akan memasuki 1 Sura 1935 Saka, sebagai awal tahun baru. Layaknya menjelang bulan Sura, masyarakat Jawa akan mendatangi tempat-tempat yang dianggap mempunyai kekuatan mistis untuk menggelar ritual batiniah dalam meminta berkah dan kerahayuan untuk tahun mendatang.

Sebuah prosesi kecil pun digelar. Dalam prosesi ini biasanya seorang dukun memimpin sekelompok kecil massa untuk menggelar prosesi labuhan atau larung dengan melepas barang-barang berharga dan sesajen ke laut untuk dipersembahkan kepada penguasa jagad lelembut Laut Selatan, Ratu Kidul. Sang Ratu kelak dipercaya akan menyampaikan harapan mereka kepada dunia yang lebih gaib lagi, yakni dipimpin Sang Maha Diraja penguasa jagad raya. Dengan kata lain, pencipta kehidupan dunia, zat yang menguasai mati dan hidup, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ada berbagai cara yang dilakukan untuk mendapatkan berkah. Biasanya sebagian orang awam akan melakukannya hanya dengan sekedar begadang di pantai. Sementara yang lainnya menggelar aneka ritual untuk menjalin kontak dengan Sang Ratu. Misalnya, dengan membakar ribuan dupa dan kemenyan, membuat sesajen serta melarungkan benda-benda berharga sebagai persembahan bagi Sang Ratu. Saat seperti inilah Sang Ratu diyakini akan memberikan berkah dan membuka tabir dunia gaib bagi umat manusia untuk mengetahui rahasia. Setidaknya, Sang Ratu melalui kekuatan gaibnya akan membantu keterbatasan nalar manusia.

Pantai Parangkusumo dipilih sebagai lokasi prosesi lantaran tempatnya yang sangat keramat. Selain itu, berdasarkan kosmologi masyarakat Jawa, pantai tersebut dianggap sebagai daratan terdekat dengan kerajaan gaib yang menguasai Laut Selatan Pulau Jawa. Itulah sebabnya, masyarakat meyakini bahwa di tengah laut yang menggelora ini terdapat sebuah istana megah yang hanya dapat dilihat melalui ketajaman batin. Kerajaan yang juga tempat bersemayamnya Kanjeng Ratu Kidul dan pasukan lelembutnya yang memiliki kekuatan dahsyat. Kisah tentang keberadaan Ratu Kidul buat masyarakat Jawa bukan lagi sekedar sebuah mitos atau cerita dari para dukun. Bahkan, keberadaannya dianggap telah menyatu dengan legenda yang memayungi satu di antara pecahan Kerajaan Mataram Islam, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta.

Menurut juru kunci Cepuri Parangkusumo Surakso Priyono, kedekatan Ratu Kidul dengan keberadaan Kerajaan Mataram berawal ketika Penembahan Senopati tengah bersemedi untuk mendapatkan kekuatan gaib dalam membuka hutan Alas Mentaok menjadi sebuah negara. Nah, saat semedi itulah, Ratu bersama lelembutnya yang tengah berjalan-jalan menanyakan maksud semedi Panembahan. Dengan jujur, Panembahan Senopati bercerita bahwa semedinya ini sebagai laku prihatin lantaran akan membuka hutan Alas Mentaok untuk menjadi sebuah kerjaan. Mendengar hal ini, Ratu Kidul pun menyanggupi permintaan Panembahan Senopati untuk membantu dengan imbalan kerajaannya di Laut Selatan juga dibantu. Akhirnya dibuatlah suatu kesepakatan Ratu Kidul membantu mendirikan dan melindungi Kerajaan Mataram. Sedangkan Panembahan Senopati bersedia akan melabuhkan sejumlah barang-barang berharga untuk dilarung di Laut Selatan. Bukan hanya itu, menurut cerita orang tua dulu, raja-raja Mataram pun diharuskan menikah dengan Ratu Kidul

Hubungan mistis antara Kerajaan Mataram dengan kerajaan gaib laut selatan hingga kini masih lestari. Karena itu, banyak tradisi di Keraton Mataram yang kini terpecah menjadi Keraton Solo dan Yogyakarta menggambarkan hubungan tersebut. Hubungan itu tercermin dalam sejumlah tarian di antaranya Tarian Bedoyo Semang, yakni tarian yang paling sakral di Keraton Yogyakarta. Tarian ini hanya dipentaskan dalam momen yang sangat khusus dan harus ditarikan sembilan gadis yang masih perawan. Hal ini dipercaya lantaran dari ke sembilan penari itu satu di antaranya Ratu Kidul. Tak heran, kendati hanya sebuah latihan, sesajen lengkap pun harus dipersiapkan.

Sayangnya, hubungan mistis ini kerapkali ditafsirkan secara berlebihan. Sebuah lorong bawah tanah di sudut Keraton Yogyakarta, misalnya. Menurut masyarakat, lorong itu diyakini sebagai jalan rahasia yang menghubungkan keraton dengan Pantai Parangkusumo. Padahal, fungsi sebenarnya hanyalah sebuah lorong rahasia yang menghubungkan keraton dengan dunia luar.

Kendati begitu, diakui atau tidak, kisah tentang kesaktian Ratu Laut Selatan telah menjaga wibawa dan kharisma Keraton Mataram. Bahkan, kesaktian itu menjadi sumber inspirasi buat ribuan masyarakat untuk mempercayai keberadaan Kanjeng Ratu Kidul. Namun, sosok Sang Ratu yang sebenarnya tidak dapat diketahui dengan pasti. Tentu saja banyak versinya. Kendati demikian, masyarakat meyakini bahwa sosok Sang Kanjeng adalah seorang perempuan yang cantik jelita.

Menurut Ayu Rosilawati yang kerap menjalani laku batin, ia telah mendapat wahyu untuk bertemu dan mengunjungi istana Sang Ratu di Laut Selatan. Sang Ratu Kidul adalah sosok wanita cantik yang penuh kasih sayang. Namun, sosok Sang Ratu berbeda dengan abdinya, yakni Nyai Roro Kidul yang bertugas untuk menghukum manusia ataupun makhluk halus yang melanggar kekeramatan Istana Laut Selatan.(ORS/Tim Potret)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya