Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat Kian Bertambah‎

Dalam dua tahun populasi Jalak Bali bertambah. ratusan Jalak Bali menyebar di Taman Nasional Bali Barat

oleh Dewi Divianta diperbarui 17 Nov 2017, 04:01 WIB
(Liputan6.com/Dewi Divianta)

Liputan6.com, Denpasar - ‎Habitat burung jalak Bali ‎makin bertambah. Setidaknya hal itu yang terekam oleh pengamatan Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna menjelaskan, selama kurun waktu dua tahun terakhir, populasinya terus meningkat. Ratusan burung yang oleh masyarakat Bali disebut curik itu menyebar di beberapa titik di TNBB.‎

Hal itu terjadi oleh sebab pola pelepasliaran yang sebelumnya terpusat di Teluk Brumbun, kini dilakukan menyebar di titik-titik lain seperti di Cekik, Gilimanuk, Teluk Trima dan teranyar di Desa Blimbingsari, Melaya.‎

Dari 160 jenis burung yang ada di TNBB, burung dengan nama latin Leucopsar Rohtscildi itu mendapat erhatian besar dari pihak taman.  Baca JugaPotret: Pesona Jalak BaliPotret Menembus Batas: Surga untuk Jalak BaliPesona Jalak Bali, Spesies Langka yang Jadi Buruan Pecinta Burung B‎urung yang menjadi maskot Bali dan dilindungi undang-undang ini awalnya mendiami sebagian kecil dari wilayah TNBB yakni di Semenanjung Prapat Agung tepatnya di Teluk Brumbun dan Teluk Kelor.‎ Namun selama lima tahun terakhir sejak tahun 2013 hingga 2017, habitat [Jalak Bali mulai menyebar hingga di kawasan hutan Cekik, Gilimanuk dan Labuang Lalang.‎

"Khusus di desa Blimbingsari, Melaya merupakan salah satu dari enam desa yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi TNBB, serta merupakan desa penyangga kawasan konservasi," kata Krisna disela-sela pelepasliaran‎, Kamis (16/11/2017).

Ia melanjutkan, di desa wisata ini masyarakat melakukan penangkaran. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan, pada tahun 2017 ini sekurangnya terdapat 109 ekor burung yang hidup liar di alam.‎Selain itu, terdapat 273 ekor burung Jalak Bali di kandang pembiakan Unit Pengelolaan Khusus Pembinaan Jalak Bali (UPKPJB).‎‎

Sehingga, keinginan masyarakat untuk melakukan penangkaran dan pelepasliaran Curik Bali sesuai dengan ketentuan yang berlaku.‎

Foto dok. Liputan6.com
Dari hasil pelepasliaran selama lima tahun terakhir, masyarakat sudah dapat melihat burung Curik Bali terbang bebas di alamnya di kawasan TNBB, bahkan di lokasi-lokasi pelepasliaran seperti di Cekik dan Labuan Lalang. "Curik Bali sangat mudah dilihat sedang beraktivitas di lantai hutan," ujarnya.‎

Ia melanjutkan, p‎elepasliaran merujuk pada panduan Union for Conservation of Nature (IUCN) Guideline for Reintroduction and Other Conservation Translocation tahun 2013.

T‎eknis pelepasliaran menggunakan metode soft release. Teranyar, tahun 2017 ini dilepasliarkan sebanyak 28 ekor. Dengan rincian 10 ekor di Labuan Lalang, 10 ekor di Brumbun dan delapan ekor di Cekik.‎Setelah dilepasliarkan, para petugas melakukan monitoring intensif guna memastikan mereka dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan baik.

Dari catatan, sejak dinyatakan menjadi hewan yang terancam punah, spesies endemik yang habitatnya hanya dapat ditemui di Bali Barat ini pada tahun 2012 pernah ditemui hingga di Karangsewu, Gilimanuk.‎Burung itu ditemui di sekitar hutan mangrove dan tidak menggunakan g‎elang sebagai penanda hasil pelepasliaran.

"Artinya burung Jalak Bali merupakan hasil pengembangbiakan di habitat liarnya," tuturnya.‎‎

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya