Osechi, Sambut Tahun Baru di Jepang

Menyambut tahun baru orang Jepang menyiapkan makanan tradisional Osechi. Biasanya makanan ini disimpan dalam rantang-rantang kotak besar yang bersusun.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Desember 2010, 13:31 WIB
Liputan6. Jakarta: Perayaan tahun baru adalah milik setiap orang dimanapun. Tapi setiap kelompok masyarakat punya tradisi masing-masing untuk menyambut awal tahun itu. Bagaimana dengan masyarakat di Jepang?

Orang Jepang mulai melakukan persiapan untuk masa liburan Tahun Baru dengan membersihkan rumah, memasang hiasan di depan pintu, dan membuat makanan khusus. Ritual seperti ini, sudah berlangsung ratusan tahun dan tetap populer hingga kini, meski dalam bentuk yang lebih sederhana.

Menyambut tahun baru, yang paling sibuk tentu saja para ibu rumahtangga. Selain membersihkan rumah, berbelanja, mereka juga menyiapkan Osechi (berbagai macam makanan tradisional Tahun Baru).

Osechi biasanya disimpan dalam rantang-rantang kotak besar yang bersusun. Kotak yang teratas biasanya berisi makanan laut yang direbus atau dikukus. Kotak ke empat penuh dengan umbi-umbian serta sayuran bercuka. Isi setiap kotak harus berjumlah ganjil karena dianggap membawa keberuntungan.

Orang Jepang merasa belum bertahun baru bila belum makan osechi dan minum otoso (sake berbumbu). Makanan dan minuman itu dianggap menyehatkan tubuh. Adapula Zoni, yakni sop jernih biasanya sop miso (tauco) yang berisi sayuran, ikan atau daging, serta potongan-potongan mochi.

Akhir-akhir ini makin berkurang keluarga yang masih mau bersusah payah membuat osechi sendiri di rumah karena memang merepotkan. Lagi pula di Toserba tersedia berbagai ragam osechi yang siap saji.

Untuk dekorasi, selain meletakkan susunan kue mochi berbentuk bundar di meja, juga dipasang pajangan hiasan jerami dan potongan kertas (shimekazari), dan kadomatsu yakni hiasan daun pinus dan 3 potongan bambu runcing yang diikat di bagian depan jalan masuk ke rumah.

Begitu lonceng di kuil didentangkan pada malam hari, maka orang-orang pun siap memasuki ganjitsu (hari pertama di Tahun Baru) secara agung tapi penuh kegembiraan. Ribuan orang kemudian berbondong-bondong mengunjungi kuil-kuil lokal atau kuil-kuil terkenal (dalam hal ini biasanya kuil Shinto) untuk berdoa bagi rejeki tahun yang baru, dan untuk mendapat anugerah kesehatan dan kesejahteraan.

Usai melakukan ritual di kuil, dilanjutkan dengan tradisi saling berkunjung antar saudara, famili dan teman. Tentu saja itu semua mengenakan busana terbaik; yang wanita pada umumnya mengenakan kimono yang indah-indah. (jepangmaniac.blogspot.com/MLA)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya