Sambut Pagi dengan Cerita Penemuan Kopi Mengkudu

Buah mengkudu yang tak punya nilai jual tapi kaya manfaat itu ternyata bisa dibuat kopi.

oleh Musthofa Aldo diperbarui 28 Sep 2017, 06:00 WIB
Beberapa orang mengalami masalah perut setelah minum kopi, ini cara menghindarinya. (Source: Prevention)

Liputan6.com, Bangkalan - Cerita menyambut pagi hari ini berawal dari keprihatinan melihat buah mengkudu terbuang sia-sia setelah masak. Adalah pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menyulap buah mengkudu menjadi serbuk kopi.

Bagaimana rasanya? "Mengkudu itu kan kaya gula, jadi kasih gula dikit sudah manis. Kopi mengkudu hemat gula. Teksturnya seperti ada rasa susunya, padahal tak diberi susu," ucap Ketua PAC GP Ansor Labang, Ahmat, Rabu, 27 September 2017.

Temuan ini berawal saat Ahmat dipercaya jadi Ketua Ansor Labang, dua tahun lalu. Dia ingin, sebagai Banom NU, GP Ansor tidak hanya mengurusi masalah kepemudaan, keagamaan, dan umat saja.

Dia ingin pengurus Ansor punya bisnis yang bisa dikelola bersama agar bisa menghidupi organisasi. "Awalnya tercetus tanam pohon jati, tapi banyak yang menolak karena masa panennya lama," Ahmat mengenang.

Kemudian ada pengurus usul, yaitu mengolah sari buah mengkudu. Pasalnya, banyak pohon mengkudu tumbuh di pekarangan dan lahan warga. Namun, setelah masak buahnya dibiarkan jatuh ke tanah membusuk, bahkan hancur dilindas kendaraan.

"Kami langsung setuju karena ada pengurus yang sudah pernah bikin," ujar Ahmat.

Setelah uji coba sari mengkudu sukses, seorang pengurus bernama Muhammad Syafi' asal Desa Bringin, usul agar tidak hanya mengolah sarinya. Tapi, mengkudu bisa diolah menjadi kopi.

Setelah usul itu, dalam rapat-rapat berikutnya Syafi' sudah membawa contoh bubuk kopi mengkudu hasil eksperimennya. Bubuk kopi itu lalu diseduh dan dihidangkan pada pengurus untuk tester.

"Awalnya kami khawatir apakah kopi mengkudu berdampak pada tubuh. Setelah dicoba biasa saja, badan normal-normal saja," tutur Ahmat.

Sayangnya, kata Ahmat, setelah banyak temuan soal mengkudu, baik sari dan kopi mengkudu belum diproduksi massal meski banyak peminatnya.

Kendala utamanya adalah minimnya ketersediaan bahan baku mengkudu. Mengkudu yang tersedia di Kecamatan Labang hanya cukup untuk sekali produksi, tapi tidak untuk diproduksi secara terus-menerus dalam jumlah besar.

"Solusinya tanam pohon mengkudu sendiri dalam jumlah besar, tapi lahannya siapa mau dipakai?" Ahmat mengungkapkan.

Proses Mengkudu Jadi Kopi

Lalu, bagaimana proses menyulap mengkudu jadi kopi? Ahmat mengaku kurang tahu secara detail. Syafi', si penemu kopi mengkudu, tak bisa datang ke kantor GP Ansor Labang untuk wawancara.

Namun, seingat Ahmat, langkah pertama adalah mengiris-iring kecil buah mengkudu masak. Setelah itu, irisan dikeringkan dengan dijemur di bawah matahari. Proses penghilangan kandungan air dalam buah mengkudu butuh waktu antara tiga sampai empat hari, tergantung panas matahari.

Setelah kering, irisan mengkudu disangrai di atas tungku kayu. Nyala api harus stabil, tidak boleh sampai gosong atau belum matang.

Setelah disangrai, irisan mengkudu tadi lalu diolah jadi bubuk pakai mesin penggiling kopi. "Kuncinya ada di cara menyangrai. Nah, yang tahu detailnya itu Pak Syafi'," kata Ahmat.

Ketua GP Ansor Bangkalan, Hasani Zubair, menilai PAC Ansor Labang memang paling kreatif dibanding PAC Ansor lainnya. Mereka inovatif termasuk soal penemuan kopi mengkudu.

"Saya pernah coba kopi mengkudunya, enak. Berasa kopi susu," kata putera pengasuh Pondok Pesantren Nurul Cholil, KH Zubair Muntashor ini.

Hasani yang santer disebut maju dalam Pilkada Bangkalan 2018 berharap apa yang dilakukan GP Ansor Labang bisa memotivasi PAC Ansor di kecamatan lain untuk berinovasi. Dengan demikian, peran Ansor bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya