Saham Unggulan Bebani Laju IHSG Selama Sepekan

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) susut 0,88 persen selama sepekan menjadi 5.864 pada perdagangan Kamis 31 Agustus 2017.

oleh Agustina Melani diperbarui 02 Sep 2017, 09:36 WIB
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) susut 0,88 persen selama sepekan menjadi 5.864 pada perdagangan Kamis 31 Agustus 2017.

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung lesu selama sepekan. Hal itu didorong saham unggulan masuk indeks saham LQ45 susut 1,07 persen.

Mengutip laporan PT Ashmore Assets Management Indonesia, Sabtu (2/9/2017), IHSG turun 0,88 persen dari level 5.915 pada Jumat 25 Agustus 2017 menjadi 5.864 pada Kamis 31 Agustus 2017. Penurunan indeks saham didorong indeks saham LQ45 melemah 1,07 persen sedangkan saham kecil dan menengah cenderung bertahan. Investor asing pun masih melakukan aksi jual sekitar US$ 110 juta.

Di pasar obligasi atau surat utang, imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun naik 6,69 persen usai Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan. Investor asing pun mencatatkan aksi beli US$ 153 juta.

Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi pasar keuangan selama sepekan. Dari faktor eksternal, produk domestik bruto (PDB) ditingkatkan menjadi tiga persen pada kaurtal II 2017 dari periode sebelumnya 2,7 persen. Selain itu, pertumbuhan konsumsi 3,3 persen mendorong sentimen konsumen.

Selain pertumbuhan ekonomi AS, aksi Korea Utara juga menuai perhatian. Korea Utara meluncurkan rudal balistik ke wilayah udara Jepang pada Selasa pekan ini. Hal itu meningkatkan ketegangan AS dan Korea Utara. Faktor tersebut mendorong imbal hasil surat berharga AS turun menjadi dua persen. Meski demikian, angka pertumbuhan ekonomi AS lebih baik ke depan menjadi penopang bursa saham AS atau wall street.

Dari faktor internal, pemerintah berencana memangkas pajak final untuk usaha kecil menengah menjadi 0,25 persen dari satu persen. Ketentuan itu akan masuk dalam revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013. Pemerintah juga berencana pangkas pajak pendapatan usaha kecil menengah dalam anggaran 2018.

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

Pasar Keuangan Indonesia Masih Menarik

Lalu hal apa yang perlu dicermati ke depan? Salah satu jadi perhatian Ashmore yaitu momentum obligasi. Ashmore melihat ada potensi reli di obligasi masih berlanjut. Ini seiring Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan 7 day reverse repo rate menjadi 4,5 persen. Penurunan suku bunga acuan ini berbeda pada 2016. Kali ini BI melakukan operasi pasar terbuka yang mendorong tingkat bunga lebih rendah.

Ashmore menilai, saat ini juga momen untuk tetap di obligasi jangka panjang seiring belum ada reli di obligasi jangka panjang. Akan tetapi pelaku pasar dapat bersiap ke pasar saham ketika momentum obligasi mereda. Imbal hasil obligasi diperkirakan mencapai 6,5 persen.

Mengingat suku bunga rendah dapat mendorong siklus aset investasi ke pasar saham.

Lalu apakah investor asing masih melihat pasar Indonesia sebagai tempat investasi aman di dalam siklus kebijakan pengetatan secara global? Ashmore melihat ada potensi itu. Hal ini mengingat bank sentral lain memperketat kebijakan moneternya sedangkan Bank Indonesia memperlonggar. Ini didorong dari tingkat inflasi Indonesia yang dikelola cukup baik.

Pemerintah menargetkan inflasi 3,5-4 persen pada 2018. Hal itu dengan catatan subsidi energi terkendali. Dengan faktor itu diharapkan, hasil investasi di Indonesia masih lebih menarik ketimbang negara lainnya yang masuk peringkat layak investasi. Investor asing masih akan terus mengalir ke Indonesia. Ini ditunjukkan dengan respons dlaam lelang surat utang negara.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya