Syafii Maarif Minta Pendidik Baca Kembali Sejarah Pendiri Bangsa

Syafii Maarif meminta guru sejarah dapat mendidik anak-anak menjadi patriot yang otentik

oleh Liputan6.com diperbarui 29 Agu 2017, 02:06 WIB
Ahmad Syafii Maarif saat menjadi salah satu pengisi acara Zikir Kebangsaan di halaman kantor DPD PDIP DIY, Rabu, 24 Mei 2017 malam. (Liputan6.com/Switzy Sabandar)

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengatakan guru sejarah harusnya mengajarkan gagasan dari bapak bangsa agar generasi muda dapat memahami Pancasila sebagai sumber pemikiran kebangsaan.

"Para pendiri bangsa ini umumnya paham sejarah, seperti Sukarno, Tan Malaka, Hatta, Agus Salim dan lainnya. Mereka punya cita-cita mulia untuk bangsa ini. Untuk itu guru sejarah mari baca kembali tulisan mereka," kata Syafii Maarif saat memberikan Ceramah Umum Kesejarahan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (28/8/2017).

Dia ingin guru sejarah dapat mendidik anak-anak menjadi patriot yang otentik. Untuk itu saat mengajar, guru sejarah tidak hanya bergantung pada kurikulum saja, mereka harus juga berkreasi dalam memberikan materi kepada peserta didik.

Syafii Maarif meminta guru sejarah untuk memperbanyak bacaannya tidak sebatas pada buku sejarah tetapi juga novel, filsafat dan agama sehingga guru dapat memberikan berbagai macam sudut pandang dalam mengantarkan pelajaran sejarah.

"Guru sejarah itu referensi bacaannya harus luas, tidak boleh hanya baca sejarah, supaya anak didik itu dapat melihat situasi dalam berbagai dimensi," kata dia seperti dikutip dari Antara.

Syafii Maarif mengatakan sejarah adalah penghubung antara masa lampau dan masa sekarang, sekaligus menunjukkan arah masa depan bangsa.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Kehilangan Arah

Menurut dia, saat ini masyarakat Indonesia telah kehilangan arah dan tidak memahami tujuan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh orang-orang terdahulu.

Nasionalisme Indonesia adalah gagasan untuk melawan dari penindasan, orang Indonesia ingin mengubah status dari terjajah menjadi merdeka.

"Tujuan kemerdekaan itu untuk kesejahteraan umum, namun kita lihat sekarang keadilan sosial belum terwujud, ketimpangan sosial masih tajam," kata dia.

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya