Penjual Nasi Menir Naik Haji Berkat Beras Sisa Gilingan Padi

Selain bisa berangkat naik haji, pasutri ini bisa menyekolahkan tiga anaknya.

oleh Muhammad Ali diperbarui 14 Agu 2017, 18:02 WIB

Liputan6.com, Cirebon - Saniah, warga Desa Lemahtamba, Kecamatan Lemahtamba, Kabupaten Cirebon, pada Senin pagi (14/8/2017), mengawali harinya dengan memilah beras menir atau beras pecahan yang dikumpulkan dari sisa gilingan padi.

Seperti ditayangkan Fokus Sore Indosiar, Senin (14/8/2017), setelah memilah dan memisahkan batu dan kerikil yang bercampur dengan beras, kemudian dimasak oleh suaminya, Aridi. Aktivitas seperti ini sudah dilakoni mereka sejak 25 tahun silam.

Selama berjualan nasi menir itu pula, pasutri ini menyisihkan uang hasil jualannya untuk berangkat haji hingga pada akhirnya uang terkumpul dan mendaftar haji pada 2011.

Pasutri yang memiliki tiga orang anak ini, harus menunggu selama enam tahun dan baru akan berangkat ke tanah suci pada 18 Agustus mendatang.

Rasa bahagia bercampur haru tergambar dari raut wajah pasutri ini. Betapa tidak, dari hasil jualan nasi menir atau beras sisa ini, mereka bisa menyekolahkan tiga anaknya dan bisa menjadi tamu Allah SWT untuk beribadah di tanah suci.

Bagi mereka, menyisihkan sedikit namun teratur merupakan hal yang ditanamkan sejak awal berjualan dengan tekad berangkat haji.

"Nabungnya 25 tahun, dari empat ratus sampai akhirnya bisa terkumpul lima juta baru ditabungkan. Daftarnya tahun 2011, nunggunya enam tahun, senang alhamdulillah akhirnya bisa naik haji berkat jualan nasi menir beras sisaan," pungkas Saniah, penjual nasi menir.

Segala persiapan telah dilakukan pasutri penjual nasi sisa ini untuk berangkat haji. Bagi mereka, nasi menir yang selama ini dianggap sebelah mata dan kerap dibuang karena sisa, merupakan sesuatu yang bisa mengantarkannya menjadi seorang jemaah calon haji.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya