KOLOM: Memaknai Tanda-Tanda di Sepak Bola

Sepak bola dipenuhi banyak tanda-tanda yang terkadang harus bisa dimaknai, seperti apa?

oleh Liputan6.comDiterbitkan 28 Juli 2017, 08:00 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah tanda bisa datang kapan saja, termasuk di sebuah pertandingan sepak bola. Seperti di Levi's Stadium dalam final Piala Emas, Kamis (26/7/2017) lalu. Baru 19 menit berjalan, kiper Jamaika, Andre Blake, cedera. Tangannya harus mendapatkan beberap jahitan. Man of The Match semifinal saat The Reggae Boyz mengandaskan Meksiko itu pun akhirnya harus digantikan sang cadangan, Dwayne Miller. Ah, sebuah tanda.

Itu memang tanda-tanda kekalahan sang tim kejutan. Kehilangan pemain terbaik di posisi yang biasanya relatif aman dari cedera sungguhlah berat adanya. Dan Jamaika pun akhirnya memang kalah. Dua kali gawang Miller dijebol penggawa Amerika Serikat, sementara sekali saja gol balasan mampu dibuat.

Cedera Blake adalah isyarat nyata. Tak perlu heran bila ada orang yang berkata, hasil laga bisa saja berbeda andai Blake tak cedera. Anggapan itu tak bisa disanggah karena faktanya, Blake-lah yang dinobatkan sebagai kiper terbaik di turnamen itu. Bukankah sebelum dipaksa keluar saja, dia sempat membuat penyelamatan ganda dari serbuan Jozy Altidore dan Kellyn Acosta?

Kehilangan Blake tak ubahnya akhir dunia bagi Jamaika. Di mata pelatih Theodore Whitmore, dia adalah sosok istimewa. "Andre adalah sosok yang mendatangkan keyakinan di dalam tim. Ketika dia ada di belakang sana, kami lebih tenang karena kami tahu, ketika kami berada dalam risiko, ada yang akan menyelamatkan," ungkap sang pelatih.

Di sepak bola, sering kali orang berkata bahwa lini tengah adalah penentu. Padahal, sejatinya kiperlah aktor paling penting. Dialah sang penentu hasil pertandingan. Kiper adalah seseorang yang dituntut tampil laiknya malaikat yang tak pernah salah. Sekali saja kesalahan dibuat kiper, kekalahan berada di depan mata.

Pemain Meksiko, Javier Hernandez, berusaha dihentikan kiper Jamaika, Andre Blake, dalam laga Grup C Copa America 2016 di Stadion Rose Bowl, Pasadena, AS, Jumat (10/6/2016) WIB. (AFP/Mark Ralston)

Lanjut Baca:

Bila tak perlu kiper bagus, rasanya Pep Guardiola di Manchester City akan cukup puas punya Joe Hart dan Willy Caballero. Tapi, buktinya, dia tak henti mendatangkan kiper baru. Musim lalu, Claudio Bravo diboyong dari Barcelona. Kini, giliran Ederson dari Benfica.Tengok juga Juergen Klopp di Liverpool. Walau mengaku punya tiga kiper sama hebatnya, dia sebenarnya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak pusing bila Simon Mignolet dan Loris Karius selalu saja tak mampu mempertahankan performa? Tak jarang, mereka malah melakukan kebodohan luar biasa. Simak video menarik di bawah ini: [vidio:](https://www.vidio.com/watch/787395-semenit-ac-milan-siap-boyong-pemain-binaan-primavera)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya