Qatar Dikucilkan, Bagaimana Nasib 43 Ribu WNI di Sana?

Akibat pemutusan hubungan yang dilakukan oleh tujuh negara, kondisi Qatar dikhawatirkan akan memburuk.

oleh Andreas Gerry Tuwo diperbarui 06 Jun 2017, 16:30 WIB
Seorang pria membeli stok air mineral di sebuah toko di Doha pascapemutusan hubungan diplomatik dengan lima negara Arab, Senin (5/6). Meskipun merupakan salah satu negara terkaya di dunia, namun Qatar sangat bergantung pada impor pangan. (STRINGER/AFP)

Liputan6.com, Doha - Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah karena pemutusan hubungan yang dilakukan tujuh negara terhadap Qatar, dikhawatirkan akan berpengaruh pada WNI yang berada di negara tersebut.

Kecemasan yang muncul direspons oleh Duta Besar RI untuk Qatar, Marsekal Madya TNI (Purn) Muhamad Basri Sidehabi. Ia menegaskan, situasi di negara tersebut masih aman dan terkendali.

Koordinasi dengan pihak keamanan setempat juga telah dilakukan. Oleh sebab itu, dia meminta WNI tetap tenang.

Basri mengatakan, sampai hari ini kondisi politik dan keamanan pada umumnya berjalan normal, serta tidak terdapat tanda-tanda meningkatnya eskalasi politik dan keamanan. Hanya ada, pengetatan pengamanan terutama di beberapa tempat seperti rumah ibadah bandara, stasiun, terminal bus, fasilitas publik serta pusat perbelanjaan.

"Dubes adalah orang terakhir yang akan meninggalkan Qatar," kata Basri guna meyakinkan masyarakat RI di Qatar untuk tetap tenang.

"Kondisi politik ini sudah terjadi pada 2014 lalu sehingga masyarakat tidak perlu khawatir," ujar dia seperti dikutip dari keterangan pers KBRI Doha, Selasa (6/6/2017).

WNI yang berada di Qatar jumlahnya cukup besar. Dari laporan Organisation for Migration (IOM), jumlah WNI pada 2015 sekitar 43 ribu.

WNI tersebut tersebar di seluruh Qatar, terutama di Al Khor, Dukhan, Umm Said, Al Shamal, Doha.

Terkait situasi kawasan, Basri menyampaikan posisi pemerintah bahwa Indonesia dengan prihatin mengikuti secara dekat perkembangan situasi di Timur Tengah saat ini.

Indonesia mengharapkan semua pihak dapat menahan diri dan mengedepankan dialog dan rekonsiliasi untuk menyelesaikan masalah ini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya