Penderita Tumor Sejak Lahir Asal Garut Butuh Bantuan

Pemuda 34 tahun ini, memiliki tumor sebesar buah pepaya yang menutupi mata sebelah kanan.

oleh Jayadi Supriadin diperbarui 29 Mei 2017, 20:00 WIB
Pemuda 34 tahun warga Garut, Jawa Barat, memiliki tumor yang menutupi mata sebelah kanan hingga sebesar buah pepaya. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut - Nasib malang telah lama menghampiri Herdi Firmansyah, warga Babakan Cau, RT 01 RW 08, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemuda 34 tahun ini, memiliki tumor sebesar buah pepaya yang menutupi mata sebelah kanan. 

Mariah (77), ibunda Herdi mengatakan, penyakit yang diderita anaknya itu terjadi sejak lahir, awalnya hanya benjolan kecil. Namun seiring berjalannya waktu, penyakit itu semakin besar menutup mata sebelah kanan serta benjolan kecil lainnya yang mulai tumbuh di beberapa titik pada muka dan anggota badan lainnya.

"Waktu usia tiga bulan pernah diperiksa di rumah sakit di Garut (RSUD dr. Slamet) dan kempis, namun sejak lulus SD kembali membesar hingga kini," kata dia, pekan lalu.

Beragam pengobatan mulai alternatif hingga tindakan medis rumah sakit telah ia tempuh untuk kesembuhan anak ke-10 nya ini. Namun hasilnya tetap nihil hingga kini.

"Padahal kami telah menghabiskan biaya sangat besar, mulai jual sawah, menggadaikan SK, hingga jual rumah tetapi semuanya tidak berhasil," ujarnya.

Akibat kondisi itu, praktis jenjang pendidikan yang ditempuh Herdi juga berhenti. Herdi hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar saja. Alhasil tidak banyak kegiatan yang bisa dijalaninya karena malu.

"Hanya di rumah saja, paling sesekali ke luar rumah," kata Mariah dengan raut muka sedih.

Pertumbuhan tumor juga semakin menyebar. Selain benjolan besar yang menutupi mata kanannya itu, kini beberapa benjolan kecil pun mulai menyerang bagian muka, punggung, tangan, perut, dada, tangan, kaki, dan bagian lainnya

"Untuk pengobatan dia, keluarga sudah tidak mampu lagi karena sudah tidak memiliki biaya," ujar Mariah.

Di tengah kondisi keuangan keluarga yang terus tergerus untuk membiayai anaknya itu, Mariah tetap berusaha tegar dengan berdoa sambil pasrah berharap ada pertolongan yang Maha Kuasa.

"Saya sudah bingung harus bagaimana lagi, apalagi pemerintah daerah sekarang ini belum pernah membantu dalam hal pengobatan gratis," ujar dia.

Ace Suganda (82), ayah Herdi menambahkan, di tengah keterbatasan itu, ia sudah tak punya uang atau aset untuk biaya pengobatan Herdi. "Jangankan untuk mengobati anak saya, untuk membeli beras saja sulit," ujar dia.

Ace mengaku telah mendatangi kantor desa Wanakerta dan camat Cibatu untuk mendapatkan pengobatan melalui BPJS. Namun hingga kini usaha tersebut sia-sia.

Ia berharap, ada perbaikan kesehatan yang dilakukan pemerintah pusat melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS) bisa memberikan alternatif lain untuk menyembuhkan kesehatan anaknya itu.

"Kalau BPJS tidak bisa, KIS juga tidak masalah," ujar Ace perihal pengobatan anaknya yang menderita tumor tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya