KOLOM: Ketika Serie A Menjadi Serie J

Serie A seakan jadi milik Juventus saja, apakah sudah berubah jadi serie J?

oleh Liputan6.comDiterbitkan 26 Mei 2017, 08:00 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Bukan serie A, tapi Italia yang kini menggenggam Eropa. Empat pelatih asal negeri pizza itu sanggup meraih gelar juara. Antonio Conte di Inggris, Carlo Ancelotti di Jerman, Massimo Carrera di Rusia, dan tentu saja Massimiliano Allegri di Italia. Di Inggris, liga terglamor, ini untuk kali kedua secara beruntun orang Italia membawa klubnya berjaya. Musim lalu, Claudio Ranieri yang meraih trofi bersama Leicester City.

Prestasi itu tentu membanggakan siapa saja yang memuja sepak bola Italia. Ini menunjukkan kualitas pelatihan pelatih di negeri pizza memang istimewa. Sekolah pelatih sepak bola di Coverciano pun sontak dilirik dan dibedah banyak media massa.

Meskipun begitu, Italia tak bisa terlalu jemawa dan menepuk dada. Prestasi para pelatih negeri itu tidaklah mencerminkan kebangkitan sepak bola Italia yang sesungguhnya. Di dalam negeri, sepak bola bisa dikatakan mati suri. Sebabnya apa lagi jika bukan dominasi Juventus yang seolah tak mungkin terhenti.

Para pemain Juventus merayakan gelar Scudetto yang ke-33 usai mengalahkan Crotone pada laga Serie A di Stadion Juventus, Turin, Minggu (21/5/2017). (EPA/Alessandro Di Marco)

LE6END. Akhir pekan lalu, Juventus menjadi legenda dengan merebut Scudetto untuk kali keenam secara beruntun. Inilah kali pertama sebuah klub menjuarai Serie-A dalam rentang waktu terlama. Sebelumnya, paling hanya lima musim berturut-turut.

Mungkin karena Juventus bukan Bayern Muenchen dan Serie-A juga bukan Bundesliga, tak banyak orang yang bersungut-sungut. Kebanyakan orang merasa nyaman dengan kesuksesan Juventus tersebut. Mereka tak peduli I Bianconeri selalu merebut trofi. Mungkin karena sudah terpatri bahwa Bundesliga hanya dikuasai Bayern, sedangkan Serie-A adalah liga paling kompetitif karena keberadaan Il Sette Magnifico.

Pemain Juventus mengangkat trofi merayakan gelar juara Liga Italia usai pertandingan melawan Crotone di Juventus Stadium, Turin, (21/5). Bagi Juveventus, ini merupakan scudetto ke-33 atau yang keenam secara beruntun. (AP Photo/Antonio Calanni)

Lanjut Baca:

Padahal, Serie-A saat ini justru dalam keadaan yang lebih kritis dibandingkan Bundesliga. Bukan hanya karena dominasi Juventus yang lebih kuat dibanding Bayern, melainkan juga karena ketiadaan klub-klub yang menjadi ancaman nyata bagi sang petahana. Napoli dan AS Roma hanya konkuren semu belaka. Keduanya hanya memiliki hasrat besar, namun tenaga kurang.Peta persaingan di kompetisi tertinggi di Italia itu pun mulai stagnan. Tiga dari empat musim terakhir [serie A](2959927 ""), posisi 3-besar dikuasai Juventus, Napoli, dan Roma. Itu pun selalu saja La Vecchia Signora unggul jauh pada pengujung musim. Hanya musim ini keunggulan Juventus cuma empat poin. Itu sangat mungkin karena I Bianconeri lebih fokus ke Liga Champions. Sebelumnya, mereka setidaknya unggul sembilan angka dari sang runner-up.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya