Liputan6.com, Wakatobi: Masih ingatkah Anda pernikahan artis Zaskia Mecca dengan sutradara Hanung Bramantyo? Dua sejoli ini mengaku menikah lantaran terkesima setelah mengikuti acara Kabuenga di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Agustus tahun silam. Kala itu mereka berdua didaulat masyarakat Wakatobi, bersanding bersama di ayunan yang dalam acara itu menjadi lambang perjodohan. Sejak dahulu kala, Kabuenga memang sebagai ajang mencari jodoh bagi muda-mudi setempat.
Nah, kali ini Kabuenga juga diadakan pada Agustus. Hanya saja, Kabuenga tahun ini digelar sehari menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-65 Republik Indonesia, Senin (16/8). Tradisi setempat ini berlangsung di areal lapang depan Pelabuhan Wangiwangi, tepat dimulai pukul 16.00 Wita. Boleh dibilang, dalam beberapa tahun terakhir, Kabuenga sekaligus dimanfaatkan sebagai salah satu daya tarik wisata Wakatobi. Selainnya tentunya pesona bawah laut yang memikat lantaran jantung segitiga terumbu karang dunia ada di sana.
Kabuenga sudah ada sejak dahulu kala, konon sejak masa keemasan Kerajaan Buton. Tradisi ini bermula ketika kaum para pemuda maupun gadis setempat jarang mempunyai kesempatan bersua. "Dahulu para pemuda sering berlayar untuk merantau atau lebih banyak di laut sehingga sulit bertemu dengan para gadis," tutur Muktiani, seorang ibu beranak tiga warga Desa Mandaki Tiga, Kecamatan Wangiwangi Selatan. Karena itulah, para lelaki dan perempuan lajang kemudian dipertemukan dalam Kabuenga. Mereka semua berkumpul di lapangan.
Saat prosesi ini, para perempuan berjualan makanan dan minuman. Mereka berpakaian khas setempat yang disebut wolio dan berkonde. Uniknya, konde yang dipakai para gadis berbeda dengan wanita yang sudah beristri. Para gadis memakai konde berbentuk bundar, sedangkan perempuan menikah menggunakan konde yang berkuncir lancip ke belakang.
Perbedaan bentuk konde ini tentu memudahkan para pemuda mencari tambatan hati masing-masing. Dahulu, pria yang tertarik dengan seorang perempuan itu akan membeli makanan ataupun minumannya. Dari jual beli makanan ini diharapkan lelaki akan melanjutkan hubungannya dengan menyambangi rumah sang pujaan hati.
"Biasanya hubungan berlanjut ke jenjang pernikahan. Bisa dalam waktu dekat, bisa juga lama tergantung penerimaan kedua belah pihak," imbuh Muktiani. Menurut dia, sekalipun Kabuenga mengikuti perkembangan zaman, masyarakat setempat di pelosok Wakotabi masih menyelenggarakan Kabuenga secara lokal. "Kabuenga di kampung-kampung berlangsung setelah Lebaran," ujar Muktiani.
Walaupun demikian, berdasarkan pantauan Liputan6.com, Kabuenga kali ini tetap dipadukan dengan tradisi lama. Dari sekitar 30 gelaran sajian yang dijaga para gadis dengan didampingi keluarga masing-masing, separuh berasal dari desa sekitar Wangiwangi. Bahkan, ada gadis belia berusia kurang dari sepuluh tahun ditampilkan keluarganya. Gadis cilik ini pun sempat menyita perhatian banyak peliput yang menghadiri acara tersebut.
Terlepas dari itu, para gadis duduk manis di lapangan. Di hadapan mereka, tersaji nampan-nampan cantik berisi masakan khas Wakatobi yang disebut liwo. Misalnya, kasuami dan kasuami pepe, nasi bambu dan lepat. Kasuami dan kasuami pepe adalah makanan khas Wakatobi yang berasal dari singkong.
Bentuk kasuami mirip dengan tiwul di Pulau Jawa. Sedangkan kasuami pepe bentuknya seperti lemper. Bulat-bulat, dan ada isinya abon ikan. Selain itu, berbagai hidangan laut disajikan seperti kepiting dan lobster. Selain menampilkan makanan dan minuman khas Wakatobi, biasanya berbagai tarian juga ditampilkan. Namun, Kabuenga kali ini tak terlalu menonjolkan tarian perlambang pernikahan.
Acara Kabuenga sempat diprotes sejumlah warga karena dinilai digelar pada bulan suci Ramadan. Kabuenga tahun ini memang bertepatan dengan bulan Ramadan. Sebab itu, berbagai makanan sajian tersebut sekaligus dijadikan santapan menu buka puasa bersama. Para peserta dan undangan maupun pengunjung tampak berbaur. Sang gadis bersama keluarga tetap melayani dan menjamu para tamu tersebut dengan baik. Begitu panitia mengumumkan waktu berbuka puasa, para undangan maupun penonton langsung menyerbu "lapak-lapak" makanan tersebut.
Tak hanya Kabuenga yang meramaikan Ramadan di Wakatobi. Menurut La Ode Iskandar, salah satu pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, banyak gadis desa yang membuka lapak kecil di depan rumah mereka. Umumnya, mereka berjualan selepas ashar hingga malam hari. Lapak itu menjual makanan ringan seperti kacang goreng. Uniknya, menurut Iskandar, kacang ini diolah tanpa minyak goreng. Kacang tersebut disangrai dengan pasir putih sehingga menimbulkan aroma yang sedap. Lebih jauh Iskandar memaparkan, para gadis penjual kacang itu pun memanfaatkan kesempatan ini dengan berharap mendapat jodoh. Jualan model ini sepintas mirip tradisi Kabuenga meski bentuknya lebih sederhana.(ANS)
Nah, kali ini Kabuenga juga diadakan pada Agustus. Hanya saja, Kabuenga tahun ini digelar sehari menjelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-65 Republik Indonesia, Senin (16/8). Tradisi setempat ini berlangsung di areal lapang depan Pelabuhan Wangiwangi, tepat dimulai pukul 16.00 Wita. Boleh dibilang, dalam beberapa tahun terakhir, Kabuenga sekaligus dimanfaatkan sebagai salah satu daya tarik wisata Wakatobi. Selainnya tentunya pesona bawah laut yang memikat lantaran jantung segitiga terumbu karang dunia ada di sana.
Kabuenga sudah ada sejak dahulu kala, konon sejak masa keemasan Kerajaan Buton. Tradisi ini bermula ketika kaum para pemuda maupun gadis setempat jarang mempunyai kesempatan bersua. "Dahulu para pemuda sering berlayar untuk merantau atau lebih banyak di laut sehingga sulit bertemu dengan para gadis," tutur Muktiani, seorang ibu beranak tiga warga Desa Mandaki Tiga, Kecamatan Wangiwangi Selatan. Karena itulah, para lelaki dan perempuan lajang kemudian dipertemukan dalam Kabuenga. Mereka semua berkumpul di lapangan.
Saat prosesi ini, para perempuan berjualan makanan dan minuman. Mereka berpakaian khas setempat yang disebut wolio dan berkonde. Uniknya, konde yang dipakai para gadis berbeda dengan wanita yang sudah beristri. Para gadis memakai konde berbentuk bundar, sedangkan perempuan menikah menggunakan konde yang berkuncir lancip ke belakang.
Perbedaan bentuk konde ini tentu memudahkan para pemuda mencari tambatan hati masing-masing. Dahulu, pria yang tertarik dengan seorang perempuan itu akan membeli makanan ataupun minumannya. Dari jual beli makanan ini diharapkan lelaki akan melanjutkan hubungannya dengan menyambangi rumah sang pujaan hati.
"Biasanya hubungan berlanjut ke jenjang pernikahan. Bisa dalam waktu dekat, bisa juga lama tergantung penerimaan kedua belah pihak," imbuh Muktiani. Menurut dia, sekalipun Kabuenga mengikuti perkembangan zaman, masyarakat setempat di pelosok Wakotabi masih menyelenggarakan Kabuenga secara lokal. "Kabuenga di kampung-kampung berlangsung setelah Lebaran," ujar Muktiani.
Walaupun demikian, berdasarkan pantauan Liputan6.com, Kabuenga kali ini tetap dipadukan dengan tradisi lama. Dari sekitar 30 gelaran sajian yang dijaga para gadis dengan didampingi keluarga masing-masing, separuh berasal dari desa sekitar Wangiwangi. Bahkan, ada gadis belia berusia kurang dari sepuluh tahun ditampilkan keluarganya. Gadis cilik ini pun sempat menyita perhatian banyak peliput yang menghadiri acara tersebut.
Terlepas dari itu, para gadis duduk manis di lapangan. Di hadapan mereka, tersaji nampan-nampan cantik berisi masakan khas Wakatobi yang disebut liwo. Misalnya, kasuami dan kasuami pepe, nasi bambu dan lepat. Kasuami dan kasuami pepe adalah makanan khas Wakatobi yang berasal dari singkong.
Bentuk kasuami mirip dengan tiwul di Pulau Jawa. Sedangkan kasuami pepe bentuknya seperti lemper. Bulat-bulat, dan ada isinya abon ikan. Selain itu, berbagai hidangan laut disajikan seperti kepiting dan lobster. Selain menampilkan makanan dan minuman khas Wakatobi, biasanya berbagai tarian juga ditampilkan. Namun, Kabuenga kali ini tak terlalu menonjolkan tarian perlambang pernikahan.
Acara Kabuenga sempat diprotes sejumlah warga karena dinilai digelar pada bulan suci Ramadan. Kabuenga tahun ini memang bertepatan dengan bulan Ramadan. Sebab itu, berbagai makanan sajian tersebut sekaligus dijadikan santapan menu buka puasa bersama. Para peserta dan undangan maupun pengunjung tampak berbaur. Sang gadis bersama keluarga tetap melayani dan menjamu para tamu tersebut dengan baik. Begitu panitia mengumumkan waktu berbuka puasa, para undangan maupun penonton langsung menyerbu "lapak-lapak" makanan tersebut.
Tak hanya Kabuenga yang meramaikan Ramadan di Wakatobi. Menurut La Ode Iskandar, salah satu pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, banyak gadis desa yang membuka lapak kecil di depan rumah mereka. Umumnya, mereka berjualan selepas ashar hingga malam hari. Lapak itu menjual makanan ringan seperti kacang goreng. Uniknya, menurut Iskandar, kacang ini diolah tanpa minyak goreng. Kacang tersebut disangrai dengan pasir putih sehingga menimbulkan aroma yang sedap. Lebih jauh Iskandar memaparkan, para gadis penjual kacang itu pun memanfaatkan kesempatan ini dengan berharap mendapat jodoh. Jualan model ini sepintas mirip tradisi Kabuenga meski bentuknya lebih sederhana.(ANS)